Filsafat yaitu upaya
spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang
seluruh realitas dan juga menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan
(sumbernya, hakikatnya, keabsahannya dan nilainya). Selain itu filsafat juga
diartikan sebagai penyelidikan kritis atas pengandaian dan
pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan. Salah
satu bahasan dalam ilmu filsafat yaitu Filsafat Eksistensialisme, filsafat ini merupakan
filsafat yang mengada. Karena itu filsafat ini merupakan filsafat tindakan bukan
filsafat yang ada di dalam pikiran. Dalam cerpen “MUAMMAR MEMILIH JALAN
SENDIRI” yang diterbitkan di harian Kompas, Minggu 14 Oktober 2012 mengandung
tema besar yang diusung oleh filsafat eksistensialisme, yaitu kebebasan.
Kebebasan dalam cerpen ini berarti manusia bebas mencari jati diri dan juga
bertanggung jawab atas perilakunya. Selain itu, isme eksistensialisme ateistis,
ialah kebebasan yang berpandangan bahwa manusia tidak bebas jika masih
terkungkung oleh eksistensi Tuhan juga ditunjukkan dalam cerpen ini.
Namun, mendengar suara ayah dan
ibunya itulah yang sangat sukar bagi Muammar, berbeda dengan Fatur dan Fayed.
Kedua putra Maludin yang disebutkan belakangan ini masih tetap menilai suara
ayah dan ibu mereka sebagai pemandu jalan agar tidak terpeleset di kegelapan
(paragraf 7). Karena itu alangkah terkejutnya Maludin dan Maryam, juga Fatur
dan Fayed, ketika pada suatu hari Muammar mengatakan akan membawa pacarnya menginap
di kamarnya di rumah mereka (paragraf 8). Maludin dengan halus meyakinkan
Muammar bahwa berdasarkan keyakinan yang mereka peluk, tindakan yang dilakukan
Muammar itu adalah salah.(paragraf 9). Mendengar kalimat-kalimat yang meluncur
dengan lancar dari mulut ayahnya, Muammar tersenyum. Masih sekuno ini ayahku,
katanya dalam hati. Bukan hanya ayah, tetapi juga ibu dan kedua adikku, kata
hatinya melanjutkan. Ini harus diterobos untuk membuka jalan baru. Pemikiran
seperti itu muncul tiba-tiba dalam kepala Muammar. Itulah yang dilakukan
keesokan harinya (paragraf 11). Pada suatu tengah malam setelah pembicaraan
ayah dan anak itu, Muammar pulang dengan membawa Joyce. Empat anggota di rumah
itu merasa dipojokkan terutama Maludin yang saleh itu. Setelah mempersilahkan
Joyce duduk dan bertanya sedikit tentang keluarganya, Maludin meminta Muammar
untuk mengikutinya ke ruang kerjanya. Begitu Maludin menutup pintu, dengan
wajah merah padam ia menghardik Muammar dengan suara keras (paragraf 12).
Muammar mendengar hardikan ayahnya dengan tenang. Baginya, kekunoan ayahnya
semakin dipertegas dengan teriakan itu. Muammar merasa ayah, ibu, dan kedua
adiknya telah terperangkap dalam kepicikan yang mengekang (paragraf 14). Satu
minggu setelah peristiwa malam itu, Muammar menelepon ayahnya. Dengan suara
tenang dan perlahan ia menyatakan kecewa dengan sikap ayahnya. Ia meminta
ayahnya untuk membebaskan diri dari belenggu keyakinan yang menghimpitnya
(paragraf 17). “Ananda dibesarkan di negeri ini, di negeri yang jauh dari tempat
kita berasal. Negeri ini telah membentuk ananda menjadi orang yang sangat
mengutamakan otak. Karena itu ananda tidak ingin mencampur adukkan keyakinan
dan rasio. Salah satu diantaranya harus diutamakan. Dan, ananda senantiasa
memberi tempat utama kepada isi kepala. Dengan alasan itu pula ananda telah
melepaskan keyakinan keluarga ita yang juga keyakinan yang ananda pegang selama
ini (paragraf 18). Berat bagi Maludin untuk menyampaikan keputusan yang telah
diambil Muammar itu. Ia masih ingin bertemu dengan anaknya itu untuk menemukan
jalan keluar yang dapat diterima Muammar. Namun, ia tidak tahu bagaimana
menemukan jalan keluar itu, karena ia dan Muammar telah berada pada posisi yang
berseberangan. Kompromi untuk hal-hal prinsipil terutama untuk keyakinan yang
berkaitan langsung dengan Tuhan, adalah langkah yang tidak akan pernah diambil
oleh Maludin. Ia lebih siap kehilangan ananknya daripada mengingkari keyakinan
yang telah dipeluknya puluhan tahun (paragraf 21). Saat yang ditunggunya itu
akhirnya tiba ketika Maryam bertanya mengapa Muammar tidak pernah pulang
beberapa hari terakhir. Maryam mendengarkan dengan hati teriris ketka suaminya
membuka lembar-lembar cerita itu kepadanya. Ia benar-benar merasa tersayat pada
saat Maludin mengutarakan bahwa Muammar bukan saja telah meninggalkan keyakinan
yang dipeluknya, tetapi juga berniat melepaskan ikatan keluarga dengan ayahnya
(paragraf 24). Anak kesayanganku telah memilih jalannya sendiri, ujar Maryam
dalam hati (paragraf 25).
Keterkaitan cerpen dengan tema filsafat
eksistensialisme kebebasan, ada dalam paragraf-paragraf di atas yaitu, Muammar
memiliki perbedaan pikiran dengan keluarganya, khususnya dengan ayahnya. Dia
berpikir bahwa saat ini semua sudah modern sehingga tidak selalu dikaitkan
dengan keyakinan yang mereka peluk sejak dahulu. Berbeda dengan ayahnya, yang
masih bersikap kuno terhadap perkembangan zaman yang sudah modern. Ayahnya
tidak setuju apabila Muammar membawa teman perempuannya untuk menginap di
rumah. Karena perbedaan pikiran ini, ayah dan anak itu bertengkar. Peristiwa
itu membuat Muammar kecewa dengan sikap ayahnya, sehingga ia memutuskan untuk
membebaskan diri dari belenggu keyakinan dan juga berniat melepaskan ikatan
keluarga dengan keluarganya. Ayahnya pun tak bisa berbuat apa, karena beliau
tidak berkompromi untuk hal-hal prinsipil terutama untuk keyakinan yang
berkaitan langsung dengan Tuhan. Ia lebih siap untuk kehilangan anaknya
daripada mengingkari keyakinan yang telah beliau peluk selama puluhan tahun.
Tindakan Muammar dalam cerita bisa dikategorikan sebagai pencarian jati diri,
pencarian jati diri merupakan salah satu contoh yang ada dalam filsafat
eksistensialisme kebebasan. Selain itu, isme eksistensialisme ateis juga ada
dalam cerpen ini, karena Muammar tidak ingin mencampur adukkan keyakinan dan
rasio. Ia senantiasa memberi tempat utama kepada isi kepala. Dengan alasan itu
ia berniat melepaskan keyakinan keluarga yang juga keyakinan yang ia pegang
selama ini. Melepaskan keyakinan disini, dikategorikan sebagai isme
eksistensialisme ateis karena dalam isme ini dijelaskan bahwa kebebasan menjadi
tidak bebas jika manusia masih terkungkung oleh eksistensi Tuhan. Karena itu,
semakin bebas seseorang, mereka akan semakin meningalkan Tuhan. Dalam cerita
Muammar merasa dia tidak bebas dan juga merasa terhimpit oleh belenggu
keyakinan yang dianut oleh ia dan keluarganya yang menyalahkan bila ia mengajak
teman perempuan untuk menginap di rumahnya. Kebebasan, merupakan potensi untuk
membentuk dirinya sendiri dan merupakan sisi lain dari kesadaran seseorang
terhadap dirinya sendiri. Dapat disimpulkan bahwa cerpen yang bercerita tentang
perbedaan pikiran antara ayah dan anak tentang keyakinan yang mengakibatkan
keinginan anak untuk melepaskan ikatan keluarga dan juga niatan untuk
melepaskan keyakinan yang mereka pegang selama ini berhubungan dengan filsafat
eksistensialisme yang bertemakan kebebasan seseorang dalam pencarian jati diri
juga masih ada kaitan dengan isme eksistensialisme ateis karena tokoh cerita
ingin melepaskan keyakinan yang telah ia peluk selama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar