Kamis, 25 Agustus 2016

Filsafat Ilmu



Filsafat yaitu upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik serta lengkap tentang seluruh realitas dan juga menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan (sumbernya, hakikatnya, keabsahannya dan nilainya). Selain itu filsafat juga diartikan sebagai penyelidikan kritis atas pengandaian dan pernyataan-pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang pengetahuan. Salah satu bahasan dalam ilmu filsafat yaitu Filsafat Eksistensialisme, filsafat ini merupakan filsafat yang mengada. Karena itu filsafat ini merupakan filsafat tindakan bukan filsafat yang ada di dalam pikiran. Dalam cerpen “MUAMMAR MEMILIH JALAN SENDIRI” yang diterbitkan di harian Kompas, Minggu 14 Oktober 2012 mengandung tema besar yang diusung oleh filsafat eksistensialisme, yaitu kebebasan. Kebebasan dalam cerpen ini berarti manusia bebas mencari jati diri dan juga bertanggung jawab atas perilakunya. Selain itu, isme eksistensialisme ateistis, ialah kebebasan yang berpandangan bahwa manusia tidak bebas jika masih terkungkung oleh eksistensi Tuhan juga ditunjukkan dalam cerpen ini.
            Namun, mendengar suara ayah dan ibunya itulah yang sangat sukar bagi Muammar, berbeda dengan Fatur dan Fayed. Kedua putra Maludin yang disebutkan belakangan ini masih tetap menilai suara ayah dan ibu mereka sebagai pemandu jalan agar tidak terpeleset di kegelapan (paragraf 7). Karena itu alangkah terkejutnya Maludin dan Maryam, juga Fatur dan Fayed, ketika pada suatu hari Muammar mengatakan akan membawa pacarnya menginap di kamarnya di rumah mereka (paragraf 8). Maludin dengan halus meyakinkan Muammar bahwa berdasarkan keyakinan yang mereka peluk, tindakan yang dilakukan Muammar itu adalah salah.(paragraf 9). Mendengar kalimat-kalimat yang meluncur dengan lancar dari mulut ayahnya, Muammar tersenyum. Masih sekuno ini ayahku, katanya dalam hati. Bukan hanya ayah, tetapi juga ibu dan kedua adikku, kata hatinya melanjutkan. Ini harus diterobos untuk membuka jalan baru. Pemikiran seperti itu muncul tiba-tiba dalam kepala Muammar. Itulah yang dilakukan keesokan harinya (paragraf 11). Pada suatu tengah malam setelah pembicaraan ayah dan anak itu, Muammar pulang dengan membawa Joyce. Empat anggota di rumah itu merasa dipojokkan terutama Maludin yang saleh itu. Setelah mempersilahkan Joyce duduk dan bertanya sedikit tentang keluarganya, Maludin meminta Muammar untuk mengikutinya ke ruang kerjanya. Begitu Maludin menutup pintu, dengan wajah merah padam ia menghardik Muammar dengan suara keras (paragraf 12). Muammar mendengar hardikan ayahnya dengan tenang. Baginya, kekunoan ayahnya semakin dipertegas dengan teriakan itu. Muammar merasa ayah, ibu, dan kedua adiknya telah terperangkap dalam kepicikan yang mengekang (paragraf 14). Satu minggu setelah peristiwa malam itu, Muammar menelepon ayahnya. Dengan suara tenang dan perlahan ia menyatakan kecewa dengan sikap ayahnya. Ia meminta ayahnya untuk membebaskan diri dari belenggu keyakinan yang menghimpitnya (paragraf 17). “Ananda dibesarkan di negeri ini, di negeri yang jauh dari tempat kita berasal. Negeri ini telah membentuk ananda menjadi orang yang sangat mengutamakan otak. Karena itu ananda tidak ingin mencampur adukkan keyakinan dan rasio. Salah satu diantaranya harus diutamakan. Dan, ananda senantiasa memberi tempat utama kepada isi kepala. Dengan alasan itu pula ananda telah melepaskan keyakinan keluarga ita yang juga keyakinan yang ananda pegang selama ini (paragraf 18). Berat bagi Maludin untuk menyampaikan keputusan yang telah diambil Muammar itu. Ia masih ingin bertemu dengan anaknya itu untuk menemukan jalan keluar yang dapat diterima Muammar. Namun, ia tidak tahu bagaimana menemukan jalan keluar itu, karena ia dan Muammar telah berada pada posisi yang berseberangan. Kompromi untuk hal-hal prinsipil terutama untuk keyakinan yang berkaitan langsung dengan Tuhan, adalah langkah yang tidak akan pernah diambil oleh Maludin. Ia lebih siap kehilangan ananknya daripada mengingkari keyakinan yang telah dipeluknya puluhan tahun (paragraf 21). Saat yang ditunggunya itu akhirnya tiba ketika Maryam bertanya mengapa Muammar tidak pernah pulang beberapa hari terakhir. Maryam mendengarkan dengan hati teriris ketka suaminya membuka lembar-lembar cerita itu kepadanya. Ia benar-benar merasa tersayat pada saat Maludin mengutarakan bahwa Muammar bukan saja telah meninggalkan keyakinan yang dipeluknya, tetapi juga berniat melepaskan ikatan keluarga dengan ayahnya (paragraf 24). Anak kesayanganku telah memilih jalannya sendiri, ujar Maryam dalam hati (paragraf 25).
            Keterkaitan cerpen dengan tema filsafat eksistensialisme kebebasan, ada dalam paragraf-paragraf di atas yaitu, Muammar memiliki perbedaan pikiran dengan keluarganya, khususnya dengan ayahnya. Dia berpikir bahwa saat ini semua sudah modern sehingga tidak selalu dikaitkan dengan keyakinan yang mereka peluk sejak dahulu. Berbeda dengan ayahnya, yang masih bersikap kuno terhadap perkembangan zaman yang sudah modern. Ayahnya tidak setuju apabila Muammar membawa teman perempuannya untuk menginap di rumah. Karena perbedaan pikiran ini, ayah dan anak itu bertengkar. Peristiwa itu membuat Muammar kecewa dengan sikap ayahnya, sehingga ia memutuskan untuk membebaskan diri dari belenggu keyakinan dan juga berniat melepaskan ikatan keluarga dengan keluarganya. Ayahnya pun tak bisa berbuat apa, karena beliau tidak berkompromi untuk hal-hal prinsipil terutama untuk keyakinan yang berkaitan langsung dengan Tuhan. Ia lebih siap untuk kehilangan anaknya daripada mengingkari keyakinan yang telah beliau peluk selama puluhan tahun. Tindakan Muammar dalam cerita bisa dikategorikan sebagai pencarian jati diri, pencarian jati diri merupakan salah satu contoh yang ada dalam filsafat eksistensialisme kebebasan. Selain itu, isme eksistensialisme ateis juga ada dalam cerpen ini, karena Muammar tidak ingin mencampur adukkan keyakinan dan rasio. Ia senantiasa memberi tempat utama kepada isi kepala. Dengan alasan itu ia berniat melepaskan keyakinan keluarga yang juga keyakinan yang ia pegang selama ini. Melepaskan keyakinan disini, dikategorikan sebagai isme eksistensialisme ateis karena dalam isme ini dijelaskan bahwa kebebasan menjadi tidak bebas jika manusia masih terkungkung oleh eksistensi Tuhan. Karena itu, semakin bebas seseorang, mereka akan semakin meningalkan Tuhan. Dalam cerita Muammar merasa dia tidak bebas dan juga merasa terhimpit oleh belenggu keyakinan yang dianut oleh ia dan keluarganya yang menyalahkan bila ia mengajak teman perempuan untuk menginap di rumahnya. Kebebasan, merupakan potensi untuk membentuk dirinya sendiri dan merupakan sisi lain dari kesadaran seseorang terhadap dirinya sendiri. Dapat disimpulkan bahwa cerpen yang bercerita tentang perbedaan pikiran antara ayah dan anak tentang keyakinan yang mengakibatkan keinginan anak untuk melepaskan ikatan keluarga dan juga niatan untuk melepaskan keyakinan yang mereka pegang selama ini berhubungan dengan filsafat eksistensialisme yang bertemakan kebebasan seseorang dalam pencarian jati diri juga masih ada kaitan dengan isme eksistensialisme ateis karena tokoh cerita ingin melepaskan keyakinan yang telah ia peluk selama ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar