“Ayah
dengarkanlah aku ingin bertemu, walau hanya dalam mimpi…”
Terdengar lantunan lagu lawas dari radio kesayanganku, sungguh merdu tetapi cukup menyayat
hati ketika mendengarnya. Ingatan masa lalu yang sangat buruk, tiba-tiba
melintas dalam benakku. Tak kusadari air mata jatuh membasahi pipiku, seiring
dengan tetesan air hujan di luar sana pada suatu sabtu sore. Aku seolah-olah
kembali pada masa lalu, saat ayah masih di rumah ini, bercanda tawa, berkumpul
bersama aku, adik, dan ibuku. Seketika, ingatan itu membuat aku tersenyum,
senyuman terharu. Jujur, aku merindukan saat itu. Saat yang tak akan bisa
diulang. Anganku hilang saat ibu masuk ke dalam kamarku untuk membawakan
segelas susu yang aku minta tadi, membuatku tersadar bahwa semua itu hanyalah
imaginasiku semata.
“mengapa
engkau menagis, Anakku?”
“Aku
teringat ayah, Bu.”
“Sabar,
Nak. Walaupun sekarang ayah sudah tidak bersama kita lagi, beliau pasti bahagia
dengan keluarganya yang baru. Ibu yakin, ayahmu pasti akan tetap mengingatmu.”
Aku tak kuasa untuk tidak menangis, pikiranku
galau. Aku tidak mampu menghadapi semua ini. Sering aku berpikir, tuhan begitu
jahat, apa salahku? Mengapa aku diberi cobaan seperti ini. Aku tak kuat. Tapi,
aku selalu yakin, ini semua hanyalah sebuah test kesabaran dari tuhan untukku.
Aku hanya remaja biasa yang tidak seberuntung remaja-remaja lainnya. Ayahku
bercerai ketika aku baru menginjak bangku kelas satu sekolah dasar. aku pun tak
pernah bertemu ayahku sejak perceraian itu. Oleh karena itu, aku tumbuh menjadi
remaja yang sangat mengimpikan sosok seorang ayah yang bisa menemaniku dalam
masa labil ini.
“tapi,
Bu. Aku sangat ingin bertemu dengan ayah. Sudah hampir sebelas tahun aku tidak
bertemu dengan ayah”
Ibu hanya bisa memelukku dan menenangkanku
yang sedang menangis sesenggukan. Sehingga aku pun tertidur dalam pelukan ibu.
Dalam tidur, aku bermimpi, ayah datang menemui aku, beliau menghampiriku
kemudian memelukku, tetapi kemudian ayah pergi meninggalkan aku. Aku terbagun
dari tidur dan mencoba mengartikan mimpi itu, diam. Aku menangis, lagi.
Keesokan harinya, aku beragkat sekolah
seperti biasa. Sampai di depan sekolah, aku melihat temanku yang diantar oleh
ayahnya. Entah mengapa, melihat itu semua aku merasa iri, kembali teringat
kepada ayahku. Aku cuma bisa melihat mereka dengan iri, aku ingin seperti dia.
Ingin sekali. Menghela nafas, dan segera memasuki sekolah dan menuju ruangan
kelasku.
Pelajaran demi pelajaran di hari selasa, aku
lewati dengan pikiran dan pandangan kosong. Aku memikirkan ayahku, bagaimana
keadaan beliau sekarang, apakah sudah tua, masih ingatkah dengan aku. Lamunanku
pun terganggu karena panggilan dari teman di sebelahku.
“hey,
kamu dipanggil guru BK”
“ada
apa?”
“aku
juga tidak tahu, cepatlah pergi ke ruang Bk. Tadi gurunya bilang kalau kamu ada
tamu.”
“ohh..
gitu. Thanks iya.”
Aku langsung menuju ke ruang BK, melamun
lagi. Aku mencoba menerka, siapa yang menemui aku pada saat jam sekolah. Apakah
ibuku? Atau tetanggaku? Atau siapa? Siapa? Siapa?. Pikiran buruk mulai merasuk,
berkecamuk dalam benakku. Sampai di ruang BK, aku melihat sosok yang sudah aku
kenal namun aku masih belum yakin dengan apa yang terlihat oleh mataku. Aku
hanya berdiri, diam terpaku. Tak percaya dengan apa yang aku lihat.
“Nak,
ini ayah. Apa kamu masih ingat dengan ayah?”
“Kenapa
ayah kesini?! Bukankah ayah sudah lupa dengan aku? Bukankah ayah sudah tak mau
bertemu denganku?”
“Ayah
tidak lupa dengan kamu, Nak.”
“Tapi,
tapi kenapa Ayah tak pernah menemui aku? Sudah hampir sebelas tahun lebih,
Yah.”
“Ayah
tak akan lupa denganmu, ayah tak pernah menemui kamu karena ayah takut, ayah
takut kamu tidak bisa menerima semua perlakuan ayah di masa lalu.”
“apa
ayah pernah berpikir? Bagaimana rasanya menjadi aku? Selama ini aku hanya bisa
membayangkan perhatian penuh dari sosok ayah. Tapi mengapa ayah menghilang,
kemana ayah pada saat aku benar-benar membutuhkan sosok seorang ayah untuk
memperhatikan aku? Ayah benar-benar tega sama aku.”
“maafkan
ayah, Nak.”
“Mengapa
Ayah tidak pernah memberiku kabar? Tidak memberiku nomor telepon? Tidak
memberiku alamat rumah? Apa ayah tidak mau bertemu aku? Ayah jahat. Ayah tega.”
Setelah mengucapkan semua itu, aku menangis.
Aku bingung harus berbuat dan berucap apalagi. Hatiku sakit. Masih ada sebersit
kebencian dalam hatiku atas perbuatan ayah sebelas tahun yang lalu. Rasa rindu,
rasa senang, rasa sedih, terharu bercampur menjadi satu.
“lebih
baik ayah pulang, aku mau kembali ke kelas.”
“Nak..
maafkan ayah.”
“aku
bisa memaafkan ayah, tapi maaf, Yah. Aku masih kurag bisa menerima semua ini.
Aku kembali ke kelas dulu. Assalamualaikum”
Sorenya, di kamar. Aku kembali memikirkan
masalah tadi. Ditemani segelas teh, aku hanya bisa berpikir, kenapa aku begitu
tega sama ayah? Kenapa aku sama sekali tidak menghargai ayah, padahal beliau
sudah menyempatkan diri untuk menemuiku. Tapi kenapa aku malah membuat beliau
kecewa. Aku menyuruh beliau pulang. Padahal beliau sangat ingin bertemu
denganku. Ahhh! Begitu bodohnya aku.
“Nak, kamu sedang apa?”
Ibu dan adik memasuki kamarku. Aku pun segera
bercerita tentang pertemuanku tadi di sekolah dengan ayah.
“Ibu,
aku mau bercerita.”
“apa
yang ingin kamu ceritakan, Nak? Bolehkah adikmu ikut serta mendengarkannya.”
“tentu,
tadi ayah datang ke sekolah untuk menemui aku, Bu.”
“hah??”
“iya
Bu, beliau berkata kalau sangat ingin bertemu denganku. Tapi, aku malah
memarahi ayah dan menyuruh ayah pulang.”
Asyikku bercerita dengan Ibu. Kami lupa dengan waktu. Sehingga setelah aku selesai
bercerita, ibu pun langsung menyuruhku untuk makan malam dan segera belajar
untuk hari esok.
Walaupun aku pergi belajar, tapi tetap saja.
Pikiranku tetap tertuju pada ayah. Aku sangat menyesal. Aku yakin, ayah memang
tidak lupa sama aku. Aku harus bisa menerima semua ini dengan hati yang ikhlas.
Aku tak mau terlarut dalam masa laluku. Kata ibuku, masa lalu itu hanya untuk
dikenang bukan untuk diulang. Lagipula, aku tak perlu membenci ayahku.
Seburuk-buruknya perlakuan ayahku beliau tetap ayahku, laki-laki paling hebat
dalam hidupku.
Aku harus bisa menghadapi semua ini dengan
hati yang tulus ikhlas. Aku tahu, ayahku sudah memiliki keluarga sendiri. Jadi
jelas, ayahku mungkin lebih banyak waktu buat mereka, dibandingkan dengan aku.
Aku hanya bisa tersenyum, memikirkan semua ini. Senyum yang disertai dengan
tetesan air mata bahagia. Semoga ayah bisa memaafkan perlakuan di siang tadi.
Maafkan aku ayah, aku khilaf, telah berkata seperti itu. Maafkan anakmu ini,
Yah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar