Kamis, 25 Agustus 2016

Cerpen : Mengalah bukan berarti Kalah



Mengalah Bukan Berarti Kalah

  “ Bapak selalu gitu gak pernah bisa mikir tentang perasaan aku”
     Ya, selalu begini setiap hari, setiap saat. Aku selalu miris bila mendengar bapak yang selalu membela adik. Kesalahan yang selalu dianggap benar. Aku hanya tersenyum suram dan selalu berpikir. Mungkin bapak melakukan yang terbaik untukku. Seperti halnya tadi, bapak memarahiku karena masalah yang sangat sepele. Aku meminta uang saku lebih untuk membayar iuran kelas dan kebetulan tadi pagi adik juga meminta uang untuk membayar kas dalam ekstrakulikuler basket yang diikutinya. Aku bingung  kenapa bapak jadi marah sama aku? Apa aku salah?. Terlarutku dalam angan, ternyata sedari tadi bapak memanggil. Dan akhirnya aku tersadar dari keasyikanku dalam melamun.
  “kamu ini gimana? Dipanggil kok lama banget?”
  “maaf, Pak. Tadi aku gag dengar.”
  “gimana sih kamu itu? Apa suara bapak kurang keras?”
  “maaf, Pak.”
  “ahh! Dasar kamu anak payah. Bisanya bikin bapak emosi saja.”
     Aku hanya diam terpaku saat bapak berbicara. Tak disangkanya air mataku jatuh menetes. Sakit hatiku, bapak pun meninggalkanku pergi tanpa berkata lagi. Ibu hanya diam, tak berani ikut campur saat bapak berbicara dalam keadaan marah. Setelah bapak pergi. Ibu pun datang kepadaku dan menenangkan aku.
  “sabar, Nak. Maafkan bapakmu, bapak tadi terbawa emosi.”
  “apa aku ini anak payah, Bu? Yang Cuma bisa bikin bapak emosi?”
  “tidak sayang, kamu jangan bilang gitu, kamu anak yang baik.”
    Perkataan serta pelukan ibu cukup bisa membuat hatiku yang sedang gundah ini merasa lebih tenang. Aku pun cuma bisa menangis sesenggukan dalam pelukan ibu. Tidak lama kemudian, adikku datang memasuki ruang makan dengan berkeluh kesah.
  “aduh Ibu, aku capek.”
  “iya Dik, kamu segera mandi dulu.”
    Mendengar suara adik, bapak pun turut bergabung di meja makan.
  “tadi basket diajari apa saja, Nak?”
  “tadi cuma latihan biasa, Pak. Kak, ambilin adik minum.”
  “hah?? Malas banget. Ambil saja sendiri. Punya kaki kok gak di pake.”
  “kamu…! Dimintai tolong adikmu jawabnya gitu.” Bapak menyahuti.
  “aku kan kakaknya, napa juga adik menyuruh-nyuruh aku. Emangnya aku 
  pembantu?”
  “dibilangin bapak kok ngelawan?! Dasar anak kurang ajar.”
     Seketika bapak menamparku. Aku sangat terkejut, bapak membela adik sedemikian hingga teganya menamparku itu pun karena masalah sepele. Aku segera lari ke kamar. Dan membanting pintu. Hatiku sakit, aku cuma bisa menangis, menangis, dan menangis. Entah bagaimana aku memiliki pikiran untuk membalas dendam atas perlakuan adik tadi yang membuat aku ditampar oleh bapak.
  “akan aku bakar baju basketnya, biar dia tahu rasa dan dimarahi bapak karena baju basketnya yang mahal itu hilang dan rusak.”
    Pikiran buruk melanda benakku, dengan segera aku pergi ke kamar adik. Mengendap-endap. Memasuki kamarnya secara perlahan, membuka lemari pakaian dan menemukan setumpuk seragam basket. Aku mengambil sebagian seragam itu dan segera pergi ke halaman belakang rumah untuk membakar seragam-seragam yang telah aku ambil. Sebagian seragam itu telah terbakar. Aku pun tersenyum puas.
  “kamu sedang apa disini, apa yang kamu bakar?”
    Suara bapak mengagetkan aku. Aku bingung harus menjawab apa.
  “aku..aku..aku membakar buku, Pak.”
  “buku? Buku atau seragam basket adikmu?”
  “maaf, Pak. Aku Cuma..”
  “bapak benar-benar gak nyangka Nak, kamu begini. Mana kedewasaan kamu?”
     Bapak pergi meninggalkan aku. Aku haya diam. Diam dan merenungi perbuatanku. Aku merasa sangat amat menyesal. Apa yang telah aku perbuat. Entah mengapa kali ini aku gak bisa menangis seperti biasanya. Aku Cuma terdiam dan berkata dalam hati.
  “kenapa aku bersikap seperti ini. Kenapa aku mengahadapi masalah ini dengan jalan kurang baik. Membalas dendam. Aku sadar ini tak baik buatku. Aku tak seharusnya mengahadapi ini semua dengan emosi, mungkin bapak benar. Bapak ngelakuin semua ini hanya untuk kebaikanku. Aku sadar, seharusnya aku juga harus banyak mengalah pada adikku. Kan pepatah berkata, Mengalah Bukan Berarti Kalah.”
    Mengalah tak berarti kalah. Aku segera kembali ke dalam rumah ingin menemui bapak dan meminta maaf. Selain itu mulai sekarang aku akan menerima semua ini dengan ikhlas. Karena tanpa aku sadari perlakuan bapak, banyak membawa dampak positif bagi aku, paling tidak aku bisa menjadi orang yang sabar dalam menghadapi masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar