Mengalah Bukan Berarti Kalah
“ Bapak selalu gitu gak
pernah bisa mikir tentang perasaan aku”
Ya, selalu begini setiap hari, setiap
saat. Aku selalu miris bila mendengar bapak yang selalu membela adik. Kesalahan
yang selalu dianggap benar. Aku hanya tersenyum suram dan selalu berpikir.
Mungkin bapak melakukan yang terbaik untukku. Seperti halnya tadi, bapak
memarahiku karena masalah yang sangat sepele. Aku meminta uang saku lebih untuk
membayar iuran kelas dan kebetulan tadi pagi adik juga meminta uang untuk
membayar kas dalam ekstrakulikuler basket yang diikutinya. Aku bingung kenapa bapak jadi marah sama aku? Apa aku
salah?. Terlarutku dalam angan, ternyata sedari tadi bapak memanggil. Dan
akhirnya aku tersadar dari keasyikanku dalam melamun.
“kamu ini gimana? Dipanggil kok lama banget?”
“maaf, Pak. Tadi aku gag dengar.”
“gimana sih kamu itu? Apa suara bapak kurang
keras?”
“maaf, Pak.”
“ahh! Dasar kamu anak payah. Bisanya bikin
bapak emosi saja.”
Aku hanya diam terpaku saat bapak
berbicara. Tak disangkanya air mataku jatuh menetes. Sakit hatiku, bapak pun
meninggalkanku pergi tanpa berkata lagi. Ibu hanya diam, tak berani ikut campur
saat bapak berbicara dalam keadaan marah. Setelah bapak pergi. Ibu pun datang
kepadaku dan menenangkan aku.
“sabar, Nak. Maafkan bapakmu, bapak tadi
terbawa emosi.”
“apa aku ini anak payah, Bu? Yang Cuma bisa
bikin bapak emosi?”
“tidak sayang, kamu jangan bilang gitu, kamu
anak yang baik.”
Perkataan serta pelukan ibu cukup bisa
membuat hatiku yang sedang gundah ini merasa lebih tenang. Aku pun cuma bisa
menangis sesenggukan dalam pelukan ibu. Tidak lama kemudian, adikku datang
memasuki ruang makan dengan berkeluh kesah.
“aduh Ibu, aku capek.”
“iya Dik, kamu segera mandi dulu.”
Mendengar suara adik, bapak pun turut
bergabung di meja makan.
“tadi basket diajari apa saja, Nak?”
“tadi cuma latihan biasa, Pak. Kak, ambilin
adik minum.”
“hah?? Malas banget. Ambil saja sendiri.
Punya kaki kok gak di pake.”
“kamu…! Dimintai tolong adikmu jawabnya
gitu.” Bapak menyahuti.
“aku kan kakaknya, napa juga adik
menyuruh-nyuruh aku. Emangnya aku
pembantu?”
“dibilangin bapak kok ngelawan?! Dasar anak
kurang ajar.”
Seketika bapak menamparku. Aku sangat
terkejut, bapak membela adik sedemikian hingga teganya menamparku itu pun
karena masalah sepele. Aku segera lari ke kamar. Dan membanting pintu. Hatiku
sakit, aku cuma bisa menangis, menangis, dan menangis. Entah bagaimana aku
memiliki pikiran untuk membalas dendam atas perlakuan adik tadi yang membuat
aku ditampar oleh bapak.
“akan aku bakar baju basketnya, biar dia tahu
rasa dan dimarahi bapak karena baju basketnya yang mahal itu hilang dan rusak.”
Pikiran buruk melanda benakku, dengan
segera aku pergi ke kamar adik. Mengendap-endap. Memasuki kamarnya secara
perlahan, membuka lemari pakaian dan menemukan setumpuk seragam basket. Aku
mengambil sebagian seragam itu dan segera pergi ke halaman belakang rumah untuk
membakar seragam-seragam yang telah aku ambil. Sebagian seragam itu telah
terbakar. Aku pun tersenyum puas.
“kamu sedang apa disini, apa yang kamu
bakar?”
Suara bapak mengagetkan aku. Aku bingung
harus menjawab apa.
“aku..aku..aku membakar buku, Pak.”
“buku? Buku atau seragam basket adikmu?”
“maaf, Pak. Aku Cuma..”
“bapak benar-benar gak nyangka Nak, kamu
begini. Mana kedewasaan kamu?”
Bapak pergi meninggalkan aku. Aku haya
diam. Diam dan merenungi perbuatanku. Aku merasa sangat amat menyesal. Apa yang
telah aku perbuat. Entah mengapa kali ini aku gak bisa menangis seperti
biasanya. Aku Cuma terdiam dan berkata dalam hati.
“kenapa aku bersikap seperti ini. Kenapa aku
mengahadapi masalah ini dengan jalan kurang baik. Membalas dendam. Aku sadar
ini tak baik buatku. Aku tak seharusnya mengahadapi ini semua dengan emosi,
mungkin bapak benar. Bapak ngelakuin semua ini hanya untuk kebaikanku. Aku
sadar, seharusnya aku juga harus banyak mengalah pada adikku. Kan pepatah
berkata, Mengalah Bukan Berarti Kalah.”
Mengalah tak berarti kalah. Aku segera
kembali ke dalam rumah ingin menemui bapak dan meminta maaf. Selain itu mulai
sekarang aku akan menerima semua ini dengan ikhlas. Karena tanpa aku sadari
perlakuan bapak, banyak membawa dampak positif bagi aku, paling tidak aku bisa
menjadi orang yang sabar dalam menghadapi masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar