Kamis, 01 September 2016

Gejala Fonologi tentang Asimilasi Bunyi dalam Bahasa Osing Banyuwangi



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 JUDUL PENELITIAN
Gejala Fonologi tentang Asimilasi Bunyi dalam Bahasa Osing Banyuwangi
1.2 LATAR BELAKANG
Bangsa Indonesia memiliki banyak sekali suku, ras, maupun bahasa dengan dialek yang beragam. Ada suku Minang yang berbahasa Minang dengan dialeknya masing-masing, ada suku Jawa yang berbahasa daerah Jawa dan Sunda dengan masing-masing dialeknya, ada suku Flores yang berbahasa Manggarai, Bajawa, Nagekeo, Ende, Lio, Sikka dan Lamaholot dengan dialeknya, dan lain-lain.
Kabupaten Banyuwangi sendiri terdapat bahasa daerah, yakni bahasa OSING. Bahasa Osing digunakan oleh masyarakat Banyuwangi yang berdiam hampir di sepanjang daerah Desa Kemiran Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi.

  Masyarakat penutur bahasa Osing menggunakan bahasa daerahnya, selain untuk keperluan komunikasi sehari-hari juga digunakan untuk keperluan adat istiadat yang digunakan saat upacara-upacara adat.

Sebagai alat komunikasi yang digunakan sehari-hari, masyarakat penutur bahasa Osing menggunakan bahasa daerahnya untuk berbagai macam keperluan atau kegiatan. Banyaknya kegiatan yang dilakukan menyebabkan beragamnya pula bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi. Keragaman bahasa ini pula terlihat pada struktur fonologis maupun morfologisnya. Selain itu, faktor yang menyebabkan adanya variasi fonologis pada Bahasa Osing adalah kesamaan situasi dan tempat digunakannya kata tersebut. Kesamaan situasi dan tempat di sini maksudnya adalah kata-kata yang salah satu fonemnya berbeda, digunakan pada tempat dan situasi yang sama dalam kalimat, memiliki makna yang sama.

Di kalangan masyarakat Osing, dikenal dua gaya bahasa yang satu sama lain ternyata tidak saling berhubungan. Yakni Cara Osing dan Cara Besiki. Cara Osing adalah gaya bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak mengenal bentuk Ngoko-Krama seperti layaknya Bahasa Jawa umumnya. Yang menjadi pembedanya adalah pronomina yang disesuaikan dengan kedudukan lawan bicara, misalnya :
·         Siro wis madhyang? = kamu sudah makan?
·         Riko wis madhyang? = anda sudah makan?
·         Hiro/Iro = digunakan/lawan bicara untuk yang lebih muda(umur)
·         Siro = digunakan/lawan bicara untuk yang selevel(umur)
·         Riko = digunakan/lawan bicara untuk yang di atas kita (umur)
·         Ndiko = digunakan/lawan bicara untuk orang tua (bapak/ibu)

Sedangkan Cara Besiki adalah bentuk "Jawa Halus" yang dianggap sebagai bentuk wicara ideal. akan tetapi penggunaannya tidak seperti halnya masyarakat Jawa, Cara Besiki ini hanya dipergunakan untuk kondisi-kondisi khusus yang bersifat keagamaan dan ritual, selain halnya untuk acara pertemuan menjelang perkawinan.
Varian Osing bahasa Jawa memiliki banyak kesamaan dan memiliki kosakata Lama Bahasa Jawa yang masih tertinggal. Namun di wilayah Banyuwangi sendiri terdapat variasi penggunaan dan kekunaan juga terlihat in situ. Varian dianggap memiliki primer Kunoan wilayah "giri", "Glagah" dan "Smooth", di mana ada bahasa Osing masih dianggap murni. Sementara Osing bahasa Jawa di Kabupaten Jember telah banyak dipengaruhi bahasa Jawa dan Madura. Dan pengucapan yang berbeda dari bahasa Jawa Osing di Banyuwangi.

Di antara orang-orang dalam Osing, ada dua gaya bahasa satu sama lain tampaknya tidak berhubungan. Yaitu Cara dan Sarana Besiki Osing. Osing adalah bahasa cara gaya digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak tahu bentuk-Krama bahasa ngoko seperti Java pada umumnya. Yang ganti khas, disesuaikan dengan posisi orang lain, misalnya:

·         Wis madhyang Siro? = Anda sudah makan?
·         Wis madhyang Riko? = Anda sudah makan?

Osing bahasa Jawa berakar kosakata langsung dari bahasa Jawa kuno, di mana banyak kata-kata kuno masih ditemukan di sana, di samping itu, pengaruh Bali juga beberapa terlihat signifikan dalam bahasa ini. Sebagai contoh kosakata bernyanyi (tidak) dan bojog (monyet).

            Pengaruh Inggris juga dimasukkan ke dalam bahasa melalui tuan tanah yang tinggal di daerah, seperti dalam kata-kata:
·         Sulung berasal dari cara begitu lama aku pertama!
·         Nagud berasal dari tidak berarti baik buruk / jelek
·         Ngepos berasal dari kata jeda berarti menghentikan
·         Kekel berasal dari kata berkotek berarti tertawa keras
·         Enjong berasal dari kata menikmati berarti santai, lezat, menyenangkan

Pengucapan "Menggunakan" bahasa memiliki keunikan ketika mengatakan, karena ada beberapa perbedaan dengan bahasa lokal lainnya, seperti:

Diftong [ai] untuk vokal [i]: semua leksikon berakhiran "i" dalam bahasa Jawa Osing Banyuwangi khususnya selalu terlafal "ai". Seperti misalnya, "Geni" dibaca "genai", "bengi" dibaca "bengai", "gedigi" (di sini) dibaca "gedigai".

Diftong [au] untuk vokal [u]: leksikon berakhiran "u" hampir selalu membaca gedigu "(jadi) dibaca" gedigau "," asu "dibaca" Asau "," AWU "dibaca" au 'Like. " "awau".

Pengucapan konsonan [k] untuk konsonan [q]. Dalam bahasa Jawa, terutama dalam leksikon berakhiran huruf "k" selalu diucapkan dengan glottal "q". Sementara Osing bahasa Jawa, masih membaca "k", yang berarti velar glottal stop. antara lain "licin" dibaca "licin", "Manuk", baca "Manuk" dan sebagainya.

Konsonan glotal [q] bahwa sebenarnya tidak ada bahasa Jawa seperti kata-kata [piro '], [Kiwo'] dan sebagainya.  Palatalisasi [y]. Dalam Osing bahasa Jawa, yang sering muncul dalam leksikon berisi [ba], [pa], [da], [wa]. Sebagai "Bapak" diucapkan "byapak", "Uwak" diucapkan "uwyak", "eyang" diucapkan "embyah", "Banyuwangi" diucapkan "byanyuwangai", "dhawuk" membaca "dyawuk '




1.3 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar belakang, peneliti membuat rumusan sebagai berikut:
1.       Bagaimanakah Gejala Fonologi (Asimilasi Bunyi) bahasa Osing?


1.4 TUJUAN
1.                  Menemukan dan mendeskripsikan Gejala Fonologi (Asimilasi Bunyi) dalam bahasa Osing.
2.                  Lebih memahami dan mengerti serta turut melestarikan budaya bangsa yang ada di wilayah Jawa Timur khususnya daerah Banyuwangi.

1.5 MANFAAT
1.5.1         Manfaat Penelitian
Tentunya tiap penelitian dapat menjawab permasalahan dan hasilnya dapat bermanfaat bagi semua pihak, lebih khusus pada pembelajar bahasa, baik bahasa Indonesia maupun bahasa daerah. Adapun manfaat dalam penelitian ini dibagi atas manfaat teoretis dan manfaat praktis.

 1.5.2        Manfaat Teoretis
Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mengembangkan teori Fonologi sehingga pembelajar bahasa dapat mengetahui perbedaan tiap variasi bahasa dalam hal ini adalah variasi pada struktur fonologis pada bahasa daerah. Selain itu, diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan untuk peneliti selanjutnya yang ingin meneliti hal yang sama sebagai bahan kajian kepustakaannya.





1.5.3       Manfaat Praktis

Adapun manfaat praktis dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Sebagai bahan informasi untuk masyarakat yang menggunakan bahasa Osing namun tidak mengetahui variasi fonologis pada setiap kata atau morfem dalam bahasanya.
2.       Untuk dipelajari lebih lanjut di dunia pendidikan, khususnya pendidikan kebahasaan.
3.      Sebagai bahan pustaka bagi peneliti-peneliti selanjutnya yang hendak meneliti objek yang sama sehingga mempermudah proses penelitian.
4.      Sebagai bahan kajian ilmu kebahasaan, lebih khusus pada bahasa daerah.















BAB 2
PEMBAHASAN
2.1               Kajian Teori
Dalam premis telah disebutkan bahwa bunyi-bunyi lingual condong berubah karena lingkungannya. Dengan demikian, perubahan bunyi tersebut bisa berdampak pada dua kemungkinan. Apabila perubahan itu tidak sampai membedakan makna atau mengubah identitas fonem, maka bunyi-bunyi tersebut masih merupakan alofon atau varian bunyi dari fonem yang sama. Dengan kata lain, perubahan itu mash dalam lingkup perubahan fonetis. Tetapi, apabila perubahan bunyi itu sudah sampai berdampak pada pembedaan makna atau mengubah identitas fonem, maka bunyi-bunyi tersebut merupakan alofon dari fonem yang berbeda.
Asimilasi adalah perubahan bunyi dari dua bunyi yang tidak sama menjadi bunyi yang sama atau hampir sama. Hal ini terjadi karena bunyi-bunyi bahasa itu diucapkan secara berurutan sehingga berpotensi untuk saling mempengaruhi atau dipengaruhi.
Asimilasi dalam bidang linguistik adalah suatu proses yang melibatkan perubahan bunyi sehingga menyebabkan perubahan bunyi tersebut terdengar sama atau mirip dengan bunyi yang berdekatan dengan kata tersebut. Asimilasi ini merupakan proses yang sering terjadi pada perubahan bunyi antara dua fonem yang berbeda sehingga menjadi fonem yang serupa atau mirip ciri-cirinya dengan bunyi yang mempengaruhinya. Menurut Abercrombie, asimilasi terjadi karena tiga faktor yaitu gerakan pita suara contohnya kata Blackboard [Blaagbord], pergerakan daerah velum contohnya kata Independent [independen], dan yang terakhir adalah perindahan daerah akulturasi. Menurut Scane, ada terdapat empat kemungkinan yang menyebabkan proses asimilasi yaitu konsonan yang berasimilasi dengan ciri-ciri vokal, vokal yang berasimilasi dengan ciri-ciri konsonan, konsonan yang berasimilasi dengan ciri-ciri konsonan dan terakhir adalah vokal berasimilasi dengan ciri-ciri vokal. Ada terdapat dua asimilasi dalam bidang linguistik menurut pengaruhnya yaitu Asimilasi Fonemis dan Asimilasi Fonetis. adapun pengertian dari kedua asimilasi menurut pengaruhnya yaitu sebagai berikut :
·         Asimilasi fonemis, yaitu asimilasi yang menyebabkan berubahnya ciri-ciri atau identitas suatu fonem. Asimilasi jenis ini yaitu mengubah suatu fonem tertentu menjadi fonem yang lain dan penekanan asimilasi ini hanya terjadi pada fonem tertentu saja. Sedangkan
·         Asimilasi fonetis adalah Asimilasi yang tidak menyebabkan berubahnya ciri-ciri identitas, atau status suatu fonem.
Asimilasi ini juga dapat terbagi berdasarkan alur artikulasinya (letak bunyi yang diubah) yaitu sebagai berikut :
1.   Asimilasi Progresif yaitu asimilasi yang proses pengaruhnya suatu bunyi pada suatu bunyi setelahnya, poses ini terjadi bila fonemnya yang berubah dan disesuaikan dengan fonem sebelumnya, dan juga terjadi jika terletak di belakang bunyi mempengaruhinya.
2.      Asimilasi Regresif yaitu asimilasi yang fonemnya akan mengalami perubahan jika fonem tersebut terletak sebelum fonem yang mempengaruhinya, biasanya fonem ini diubah jika terletak di depan.
3.      Asimilasi Resiprokal yaitu asimilasi yag terjadi jika kedua fonem saling mempengaruhi satu sama lain sehingga menjadi bunyi yang lain.
Dalam penggunaan komunikasi sehari-hari baik lisan maupun tulisan terdapat ketidak sesuaian antara kata bunyi yang dihasilkan dengan ucapan manusia yang tidak sesuai dengan bentuk katanya dan disebut dengan Gejala Bunyi. Contoh kata Sebab (sebap), Sabtu (saptu), Vas bunga (fas bunga),






2.2               Metode Penelitian

1.        Metode dan teknik Pengumpulan Data
Wawancara informasi merupakan salah satu metode pengumpulan data untuk memperoleh data dan informasi dari siswa secara lisan. Proses wawancara dilakukan dengan cara tatap muka secara langsung dengan siswa. Selama proses wawancara petugas bimbingan mengajukan pertanyaan, meminta penjelasan dan jawaban dari pertanyaan yang diberikan dan membuat catatan mengenai hal-hal yang diungkapkan kepadanya. Secara garis besar ada dua macam pedoman wawancara, yaitu:

a.    Pedoman Wawancara Tidak Terstruktur
Yaitu pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Tentu saja kreativitas pewawancara sangat diperlukan, bahkan hasil wawancara dengan jenis pedoman ini lebih banyak tergantung dari pewawancara. Pewawancaralah sebagai pengemudi jawaban responden. Jenis interviu ini cocok untuk penilaian khusus.

b. Pedoman Wawancara Terstruktur
Yaitu pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai check-list. Pewawancara tinggal membubuhkan tanda (check) pada nomor yang sesuai. Pedoman wawancara yang banyak digunakan adalah bentuk “semi structured”. Dalam hal ini maka mula-mula interviewer menanyakan serentetan pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu per satu diperdalam dalam mengorek keterangan lebih lanjut. Dengan demikian jawaban yang diperoleh bisa meliputi semua variabel, dengan keterangan yang lengkap dan mendalam.

Dalam Penelitian kali ini, kelompok kami menggunakan teknik pengumpulan data secara wawancara, karena kelompok kami akan meneliti gejala gejala fonologi, lebih mendalamnya mengenai asimilasi bunyi pada bahasa Oseng, dan untuk mendapatkan data yang spesifik dari masyarakat, kami sepakat untuk menggunakan metode wawancara yang tidak terstruktur.

2.        Metode dan teknik Analisis Data
Pada penelitian kali ini, kelompok kami menggunakan metode dan teknik analisi data dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, karena kami  sebagai peneliti turut berperan serta dalam observasi dengan cara mewawancarai masyarakat desa Kemiren yang menggunakan Bahasa Oseng sebagai bahasa sehari-hari.
1.        Analisis Data Sebelum di Lapangan
Analisis dalam tahap ini dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau data sekunder yang akan digunakan peneliti untuk menentukan fokus penelitian. Kelompok kami mempelajari tentang gejala-gejala Fonologi, khususnya mengenai asimilasi bunyi
2.      Analisis Data Selama di Lapangan
Pada tahap ini, analisis data dilakukan dengan mengumpulkan data secara langsung melalui wawancara atau observasi. Misalnya, pada saat wawancara berlangsung, peneliti sudah melakukan analisis terhadap jawaban dari responden. Jika peneliti belum puas dengan jawaban dari responden, maka peneliti bisa melanjutkan pertanyaan lagi sampai batas tertentu diperoleh data yang valid. 
3.    Analisis Data Selesai di Lapangan
ada tahap akhir, analisis data dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu sebagai berikut.
·         Analisis domain, yaitu memperoleh gambaran umum dan menyeluruh dari objek penelitian atau situasi sosial;
·         Analisis taksonomi, yaitu penjabaran secara rinci dari analisis domain melalui observasi terfokus;
·         Analisis komponensial, yaitu mencari cirri spesifik pada setiap detil struktur internal; dan
·         Analisis tema cultural, yaitu mencari hubungan antara domain, dan hubungannya dengan seluruh komponen, akhirnya dapat
menentukan tema/judul penelitian. 



2.3  Data dan Sumber Data
Data yang akan kami teliti yaitu pelafalan bahasa Oseng, untuk lebih jelasnya yakni kami akan meneliti asimilasi bunyi dalam Bahasa Oseng yang digunakan warga setempat untuk berkomunikasi di kehidupan sehari-hari. Sumber data yang kelompok kami peroleh yaitu dari masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.

2.4  Lokasi dan Informasi
1.                  Sejarah Desa
Asal mula kata Kemiren menurut para sesepuh Desa, dahulu di Desa Kemiren saat pertama kali ditemukan, desa tersebut masih berupa hutan dan terdapat banyak pohon kemiri dan duren (durian) sehingga mulai saat itu, daerah tersebut dinamakan “Desa Kemiren”.
Menurut sejarah masyarakat Desa Kemiren berasal dari orang-orang yang mengasingkan diri dari kerajaan Majapahit setelah kerajaan ini mulai runtuh sekitar tahun 1478 M. Selain menuju ke daerah di ujung timur Pulau Jawa ini, orang-orang Majapahit juga mengungsi ke Gunung Bromo (Suku Tengger) di Kabupaten Probolinggo, dan Pulau Bali. Kelompok masyarakat yang mengasingkan diri ini kemudian mendirikan kerajaan Blambangan di Banyuwangi yang bercorak Hindu-Buddha seperti halnya kerajaan Majapahit. Kemudian masyarakat Kerajaan Blambangan berkuasa selama dua ratusan tahun sebelum jatuh ke tangan kerajaan Mataram Islam pada tahun 1743 M.
Desa Kemiren ini lahir pada zaman penjajahan Belanda, tahun 1830-an. Awalnya, desa ini hanyalah hamparan sawah hijau dan hutan milik para penduduk Desa Cungking yang konon menjadi cikal-bakal masyarakat Osing di Banyuwangi. Hingga kini Desa Cungking juga masih tetap ada. Letaknya sekitar 5 km arah timur Desa Kemiren. Hanya saja, saat ini kondisi Desa Cungking sudah menjadi desa kota. Saat itu, masyarakat Cungking memilih bersembunyi di sawah untuk menghindari tentara Belanda. Para warga enggan kembali ke desa asalnya di Cungking. Maka dibabatlah hutan untuk dijadikan perkampungan. Hutan ini banyak ditumbuhi pohon kemiri dan durian. Maka dari itulah desa ini dinamakan Kemiren. Pertama kali desa ini dipimpin kepala desa bernama Walik. Sayangnya, tidak ada sumber jelas yang menceritakan siapa Walik. Konon dia termasuk salah satu keturunan bangsawan.
2.                  Karakteristik Desa
Desa Kemiren secara administratif termasuk, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dan secara historis geneologis-sosiologis masih memperlihatkan tata kehidupan sosio-kultural yang mempunyai kekuatan nilai tradisional Osing sehingga pada saat kepemimpinan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman, Desa Kemiren ditetapkan menjadi kawasan wisata desa adat Osing. Osing merupakan salah satu komunitas etnis yang berada di daerah Banyuwangi dan sekitarnya. Dalam lingkup lebih luas, Osing merupakan salah satu bagian sub-etnis Jawa. Dalam peta wilayah kebudayaan Jawa, Osing merupakan bagian wilayah Sabrang Wetanyang berkembang di daerah ujung timur Pulau Jawa. Keberadaan komunitas Osing berkaitan erat dengan sejarah Blambangan (Scholte, 1927). Menurut Leckerkerker (1923:1031), orang-orang Osing adalah masyarakat Blambangan yang tersisa. Keturunan kerajaan Hindu Blambangan ini berbeda dari masyarakat lainnya (Jawa, Madura dan Bali), bila dilihat dari adat-istiadat, budaya maupun bahasanya (Stoppelaar, 1927).
Orang Osing menurut Andrew Beatty (dalam buku The Variety of Javanese Religion) diduga mereka adalah keturunan sisa-sisa penduduk tahun 1768. Meskipun dokumen sebelumnya tidak menyebutkan nama itu. Para ahli sejarah lokal cukup yakin bahwa julukan ”Osing” itu diberikan oleh para imigran yang menemukan bahwa kata ”tidak” dalam dialek lokal adalah ”Osing”, yang berbeda dari kata ”ora” dalam bahasa Jawa. Orang yang sebenarnya Jawa itu kini disebut Osing saja atau juga disebut Jawa Osing. Bernard Arps menyebutnya sebagai basa Using atau basa Banyuwangen (dalam buku ”tembang in two traditions”)
Desa Kemiren telah ditetapkan sebagai Desa Osing yang sekaligus dijadikan cagar budaya untuk melestarikan keosingannya. Area wisata budaya yang terletak di tengah desa itu menegaskan bahwa desa ini berwajah Osing dan diproyeksikan sebagai cagar budaya Osing. Banyak keistemewaan yang dimiliki oleh desa ini diantaranya adalah penggunakan bahasa yang khas yaitu bahasa Osing. Bahasa ini memiliki ciri khas yaitu ada sisipan “y” dalam pengucapannya. Seperti contoh berikut ini : madang (makan) dalam bahasa Osing menjadi “madyang“, abang (merah) dalam bahasa Osing menjadi “abyang“. Masyarakat desa ini masih mempertahankan bentuk rumah sebagai bangunan yang memiliki nilai filosofi. Adapun bentuk rumah tersebut meliputi rumah tikel balung atau beratap empat yang melambangkan bahwa penghuninya sudah mantap, rumah crocogan atau beratap dua yang mengartikan bahwa penghuninya adalah keluarga yang baru saja membangun rumah tangga dan atau oleh keluarga yang ekonominya relatif rendah, dan rumah baresan atau beratap tiga yang melambangkan bahwa pemiliknya sudah mapan, secara materi berada di bawah rumah bentuk tikel balung.
Keunikan lainnya terdapat pada tradisi masyarakat yang mengkramatkan situs Buyut Cili, tiap malam Senin dan malam Jumat warga yang akan membuat hajatan selalu melakukan doa dengan membawa “pecel pitik” atau yang biasa kita kenal dengan sebutan urap-urap ayam bakar di situsMbah Buyut Cili yang dipercaya sebagai salah seorang leluhurnya. Di samping itu, bagi pendatang yang bermalam di desa ini juga dianjurkan untuk berziarah ke situs Buyut Cili guna meminta izin demi keselamatan dirinya serta dilancarkan urusannya selama berada di Desa Kemiren. Bukan hanya itu, Buyut Cili ini dipercaya untuk mengabulkan permintaan masyarakat yang berziarah, asalkan permintaan tersebut harus bersifat baik. Salah satu caranya adalah dengan meminta berbagai bunga yang ada di makam tersebut kepada penjaga makam kemudian bunga tersebut dicampur dengan air untuk diminum tapi sebelumnya harus membaca basmalah dan shalawat 3x.
Desa Kemiren, terletak strategis ke arah menuju wisata Kawah Ijen, desa ini memiliki luas 117.052 m2 memanjang hingga 3 km yang di kedua sisinya dibatasi oleh dua sungai, Gulung dan Soboyang mengalir dari barat ke arah timur. Di tengah-tengahnya terdapat jalan aspal selebar 5 m yang menghubungkan desa ini ke kota Banyuwangi di sisi timur dan pemandian Tamansuruh dan ke perkebunan Kalibendo di sebelah barat. Untuk bersekolah di atas SD, penduduk Kemiren harus menempuhnya di luar desa, ke ibukota kecamatan yang berjarak 2 km atau ke kota Banyuwangi yang berjarak 5 km. Adapun batas wilayah desa adalah;





- Sebelah Utara    : Desa Jambesari
- Sebelah Selatan  : Desa Olehsari
- Sebelah Barat     : Desa Tamansuruh
- Sebelah Timur    : Kelurahan Banjarsari
Desa yang berada di ketinggian 144 m di atas permukaan laut yang termasuk dalam topografi rendah dengan curah hujan 2000 mm/tahun sehingga memiliki suhu udara rata-rata berkisar 22-26°C ini memang cukup enak dan menarik dari sudut suhu udara dan pemandangan untuk wisata. Desa Kemiren. Pada siang hari, terutama pada hari-hari libur, jalan yang membelah Desa Kemiren ini cukup ramai oleh kendaraan umum dan pribadi yang menuju ke pemandian Tamansuruh, perkebunan Kalibendo maupun ke lokasi wisata Desa Osing. Di samping itu, sebagai pusat budaya Osing Desa Kemiren memiliki banyak seni tari maupun musik. Adapun seni tersebut adalah :

-       Gandrung
-       Kuntulan
-       Barong
-       Gedhogan
-       Mocoan lontar yusuf
-       Burdah
-       Jaran kencak
-       Kiling
-       Angklung paglak
-       Angklung caruk
-       Angklung tetak
-       Angklung Blambangan
-       Kenthulitan
-       Seni ukir
-       Tenun abaka
-       Tulup
-       Seni arsitektur rumah Osing
-       Seni kerajinan pembuatan    biola gandrung
-       Seni kerajinan pembuatan barong Osing

3        Upacara adat yang ada antara lain :

-       Sedekah Syawal
-       Sedekah Penampan
-       Sedekah Kupatan
-       Barong ider bumi
-       Tumpeng sewu
-       Rebo Wekasan (nyelameti banyu)
-       Adeg-adeg tandur
-       Selametan melecuti pari (saat padi hamil)
-       Selametan pari (akan panen)
-       Selametan sapi (selesai membajak sawah)
-       Selametan kebonan
-       Selametan jenang sumsum
-       Selametan jenang lemu
-       Selametan Syuroan
-       Selametan nduduk lemah
-       Selametan masang suwunan
-       Selametan ngebangi umah







4        Model Masyarakat Agraris Tradisional Desa Kemiren
Masyarakat Desa Kemiren yang termasuk dalam masyarakat agraris tradisional yang memiliki ciri-ciri yaitu:
1.      Norma Partikularistik yang menonjol, yaitu norma yang berlaku dalam hubungan masyarakat terbatas pada kelompok, tempat, waktu dan keadaan tertentu.
2.      Jenis pekerjaan masyarakat berisfat homogen, kebanyakan petani
3.      Mobilitas masyarakat rendah, terdapat keengganan dalam diri masyarakat untuk berpindah-pindah, mereka berkumpul dengan famili dan keluarga dalam formasi membangun rumah tempat tinggal
4.      Sistem pelapisan kelompok masyarakat atau kelas-kelas masih ada dan berdasar pada kehormatan usia dan kedudukan seseorang, ada yang disebut sesepuh
5.      Organisasi primer merupakan organisasi yang menonjol di masyarakat yaitu, antara lain keluarga dan suku yang didasarkan atas hubungan darah atau keturunan
6.      Adanya swadaya masyarakat, yaitu penentuan kebutuhan hidup dari hasil perekonomiannya. Dengan kata lain produksi barang-barang ekonomi dipergunakan untuk kalangan sendiri, tata cara bertani menggunakan tenaga hewan
7.      Masih adanya penggunaan biaya untuk upacara-upacara ritual yang merupakan kegiatan yang bersifat irasional
8.      Dasar ekonominya berawal dari berdiri sendiri dalam memenuhi kebutuhan dan tidak banyak bergantung pada mekanisme birokrasi pemerintah
9.      Pola hubungan masyarakat bersifat pribadi dan biasanya disebut masyarakat paguyuban




Tidak ada komentar:

Posting Komentar