BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 JUDUL PENELITIAN
Gejala Fonologi tentang Asimilasi Bunyi dalam
Bahasa Osing Banyuwangi
1.2
LATAR BELAKANG
Bangsa Indonesia memiliki banyak sekali suku,
ras, maupun bahasa dengan dialek yang beragam. Ada suku Minang yang berbahasa Minang
dengan dialeknya masing-masing, ada suku Jawa yang berbahasa daerah Jawa dan
Sunda dengan masing-masing dialeknya, ada suku Flores yang berbahasa Manggarai,
Bajawa, Nagekeo, Ende, Lio, Sikka dan Lamaholot dengan dialeknya, dan
lain-lain.
Kabupaten Banyuwangi sendiri terdapat bahasa daerah,
yakni bahasa OSING. Bahasa Osing digunakan oleh masyarakat Banyuwangi yang
berdiam hampir di sepanjang daerah Desa Kemiran Kecamatan Glagah Kabupaten
Banyuwangi.
Masyarakat penutur bahasa Osing menggunakan
bahasa daerahnya, selain untuk keperluan komunikasi sehari-hari juga digunakan
untuk keperluan adat istiadat yang digunakan saat upacara-upacara adat.
Sebagai alat komunikasi yang digunakan
sehari-hari, masyarakat penutur bahasa Osing menggunakan bahasa daerahnya untuk
berbagai macam keperluan atau kegiatan. Banyaknya kegiatan yang dilakukan
menyebabkan beragamnya pula bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi.
Keragaman bahasa ini pula terlihat pada struktur fonologis maupun
morfologisnya. Selain itu, faktor yang menyebabkan adanya variasi fonologis
pada Bahasa Osing adalah kesamaan situasi dan tempat digunakannya kata
tersebut. Kesamaan situasi dan tempat di sini maksudnya adalah kata-kata yang
salah satu fonemnya berbeda,
digunakan pada tempat dan situasi yang sama dalam kalimat, memiliki makna yang
sama.
Di kalangan
masyarakat Osing, dikenal dua gaya bahasa yang satu sama lain ternyata tidak
saling berhubungan. Yakni Cara Osing dan Cara Besiki. Cara
Osing adalah gaya bahasa yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari, dan
tidak mengenal bentuk Ngoko-Krama seperti layaknya Bahasa Jawa umumnya. Yang
menjadi pembedanya adalah pronomina yang disesuaikan dengan kedudukan lawan
bicara, misalnya :
·
Siro wis
madhyang? = kamu sudah makan?
·
Riko wis
madhyang? = anda sudah makan?
·
Hiro/Iro =
digunakan/lawan bicara untuk yang lebih muda(umur)
·
Siro =
digunakan/lawan bicara untuk yang selevel(umur)
·
Riko =
digunakan/lawan bicara untuk yang di atas kita (umur)
·
Ndiko =
digunakan/lawan bicara untuk orang tua (bapak/ibu)
Sedangkan Cara
Besiki adalah bentuk "Jawa Halus" yang dianggap sebagai bentuk wicara
ideal. akan tetapi penggunaannya tidak seperti halnya masyarakat
Jawa, Cara Besiki ini hanya dipergunakan untuk kondisi-kondisi khusus
yang bersifat keagamaan dan ritual, selain halnya untuk acara
pertemuan menjelang perkawinan.
Varian
Osing bahasa Jawa memiliki banyak kesamaan dan memiliki kosakata Lama Bahasa
Jawa yang masih tertinggal. Namun di wilayah Banyuwangi sendiri terdapat
variasi penggunaan dan kekunaan juga terlihat in situ. Varian dianggap memiliki
primer Kunoan wilayah "giri", "Glagah" dan
"Smooth", di mana ada bahasa Osing masih dianggap murni. Sementara
Osing bahasa Jawa di Kabupaten Jember telah banyak dipengaruhi bahasa Jawa dan
Madura. Dan pengucapan yang berbeda dari bahasa Jawa Osing di Banyuwangi.
Di
antara orang-orang dalam Osing, ada dua gaya bahasa satu sama lain tampaknya
tidak berhubungan. Yaitu Cara dan Sarana Besiki Osing. Osing adalah bahasa cara
gaya digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak tahu bentuk-Krama bahasa
ngoko seperti Java pada umumnya. Yang ganti khas, disesuaikan dengan posisi
orang lain, misalnya:
·
Wis madhyang Siro? =
Anda sudah makan?
·
Wis madhyang Riko? =
Anda sudah makan?
Osing
bahasa Jawa berakar kosakata langsung dari bahasa Jawa kuno, di mana banyak
kata-kata kuno masih ditemukan di sana, di samping itu, pengaruh Bali juga
beberapa terlihat signifikan dalam bahasa ini. Sebagai contoh kosakata
bernyanyi (tidak) dan bojog (monyet).
Pengaruh Inggris juga dimasukkan ke dalam bahasa melalui tuan tanah yang tinggal di daerah, seperti dalam kata-kata:
Pengaruh Inggris juga dimasukkan ke dalam bahasa melalui tuan tanah yang tinggal di daerah, seperti dalam kata-kata:
·
Sulung berasal dari
cara begitu lama aku pertama!
·
Nagud berasal dari
tidak berarti baik buruk / jelek
·
Ngepos berasal dari
kata jeda berarti menghentikan
·
Kekel berasal dari
kata berkotek berarti tertawa keras
·
Enjong berasal dari
kata menikmati berarti santai, lezat, menyenangkan
Pengucapan
"Menggunakan" bahasa memiliki keunikan ketika mengatakan, karena ada
beberapa perbedaan dengan bahasa lokal lainnya, seperti:
Diftong [ai] untuk vokal [i]: semua leksikon berakhiran "i" dalam bahasa Jawa Osing Banyuwangi khususnya selalu terlafal "ai". Seperti misalnya, "Geni" dibaca "genai", "bengi" dibaca "bengai", "gedigi" (di sini) dibaca "gedigai".
Diftong [au] untuk vokal [u]: leksikon berakhiran "u" hampir selalu membaca gedigu "(jadi) dibaca" gedigau "," asu "dibaca" Asau "," AWU "dibaca" au 'Like. " "awau".
Pengucapan konsonan [k] untuk konsonan [q]. Dalam
bahasa Jawa, terutama dalam leksikon berakhiran huruf "k" selalu
diucapkan dengan glottal "q". Sementara Osing bahasa Jawa, masih
membaca "k", yang berarti velar glottal stop. antara lain
"licin" dibaca "licin", "Manuk", baca "Manuk"
dan sebagainya.
Konsonan glotal [q] bahwa sebenarnya tidak ada bahasa
Jawa seperti kata-kata [piro '], [Kiwo'] dan sebagainya. Palatalisasi
[y]. Dalam Osing bahasa Jawa, yang sering muncul dalam leksikon berisi [ba],
[pa], [da], [wa]. Sebagai "Bapak" diucapkan "byapak",
"Uwak" diucapkan "uwyak", "eyang" diucapkan
"embyah", "Banyuwangi" diucapkan "byanyuwangai",
"dhawuk" membaca "dyawuk '
1.3
RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian pada latar belakang,
peneliti membuat rumusan sebagai berikut:
1. Bagaimanakah Gejala Fonologi (Asimilasi Bunyi) bahasa
Osing?
1.4
TUJUAN
1.
Menemukan dan mendeskripsikan
Gejala Fonologi (Asimilasi Bunyi) dalam bahasa Osing.
2.
Lebih memahami dan
mengerti serta turut melestarikan budaya bangsa yang ada di wilayah Jawa Timur
khususnya daerah Banyuwangi.
1.5
MANFAAT
1.5.1 Manfaat
Penelitian
Tentunya
tiap penelitian dapat menjawab permasalahan dan hasilnya dapat bermanfaat bagi
semua pihak, lebih khusus pada pembelajar bahasa, baik bahasa Indonesia maupun
bahasa daerah. Adapun manfaat dalam penelitian ini dibagi atas manfaat teoretis
dan manfaat praktis.
1.5.2 Manfaat Teoretis
Secara
teoretis, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam mengembangkan teori
Fonologi sehingga pembelajar bahasa dapat mengetahui perbedaan tiap variasi
bahasa dalam hal ini adalah variasi pada struktur fonologis pada bahasa daerah.
Selain itu, diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan untuk peneliti
selanjutnya yang ingin meneliti hal yang sama sebagai bahan kajian
kepustakaannya.
1.5.3 Manfaat
Praktis
Adapun manfaat praktis dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Sebagai bahan informasi untuk masyarakat yang
menggunakan bahasa Osing namun tidak mengetahui variasi fonologis pada setiap
kata atau morfem dalam bahasanya.
2. Untuk
dipelajari lebih lanjut di dunia pendidikan, khususnya pendidikan kebahasaan.
3. Sebagai bahan pustaka bagi peneliti-peneliti
selanjutnya yang hendak meneliti objek yang sama sehingga mempermudah proses
penelitian.
4. Sebagai bahan kajian ilmu kebahasaan, lebih
khusus pada bahasa daerah.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1
Kajian Teori
Dalam premis
telah disebutkan bahwa bunyi-bunyi lingual condong berubah karena
lingkungannya. Dengan demikian, perubahan bunyi tersebut bisa berdampak pada
dua kemungkinan. Apabila perubahan itu tidak sampai membedakan makna atau
mengubah identitas fonem, maka bunyi-bunyi tersebut masih merupakan alofon atau
varian bunyi dari fonem yang sama. Dengan kata lain, perubahan itu mash dalam
lingkup perubahan fonetis. Tetapi, apabila perubahan bunyi itu sudah sampai
berdampak pada pembedaan makna atau mengubah identitas fonem, maka bunyi-bunyi
tersebut merupakan alofon dari fonem yang berbeda.
Asimilasi
adalah perubahan bunyi dari dua bunyi yang tidak sama menjadi bunyi yang sama
atau hampir sama. Hal ini terjadi karena bunyi-bunyi bahasa itu diucapkan
secara berurutan sehingga berpotensi untuk saling mempengaruhi atau
dipengaruhi.
Asimilasi dalam bidang linguistik adalah
suatu proses yang melibatkan perubahan bunyi sehingga menyebabkan perubahan
bunyi tersebut terdengar sama atau mirip dengan bunyi yang berdekatan dengan
kata tersebut. Asimilasi ini merupakan proses yang sering terjadi pada
perubahan bunyi antara dua fonem yang berbeda sehingga menjadi fonem yang
serupa atau mirip ciri-cirinya dengan bunyi yang mempengaruhinya. Menurut
Abercrombie, asimilasi terjadi karena tiga faktor yaitu gerakan pita suara
contohnya kata Blackboard [Blaagbord], pergerakan daerah velum contohnya kata
Independent [independen], dan yang terakhir adalah perindahan daerah
akulturasi. Menurut Scane, ada terdapat empat kemungkinan yang menyebabkan
proses asimilasi yaitu konsonan yang berasimilasi dengan ciri-ciri vokal, vokal
yang berasimilasi dengan ciri-ciri konsonan, konsonan yang berasimilasi dengan
ciri-ciri konsonan dan terakhir adalah vokal berasimilasi dengan ciri-ciri
vokal. Ada terdapat dua asimilasi dalam bidang linguistik menurut pengaruhnya
yaitu Asimilasi Fonemis dan Asimilasi Fonetis. adapun pengertian dari kedua
asimilasi menurut pengaruhnya yaitu sebagai berikut :
·
Asimilasi fonemis, yaitu asimilasi yang
menyebabkan berubahnya ciri-ciri atau identitas suatu fonem. Asimilasi jenis
ini yaitu mengubah suatu fonem tertentu menjadi fonem yang lain dan penekanan
asimilasi ini hanya terjadi pada fonem tertentu saja. Sedangkan
·
Asimilasi fonetis adalah Asimilasi yang tidak
menyebabkan berubahnya ciri-ciri identitas, atau status suatu fonem.
Asimilasi ini juga dapat terbagi berdasarkan
alur artikulasinya (letak bunyi yang diubah) yaitu sebagai berikut :
1.
Asimilasi Progresif yaitu asimilasi yang
proses pengaruhnya suatu bunyi pada suatu bunyi setelahnya, poses ini terjadi
bila fonemnya yang berubah dan disesuaikan dengan fonem sebelumnya, dan juga
terjadi jika terletak di belakang bunyi mempengaruhinya.
2.
Asimilasi Regresif yaitu asimilasi yang
fonemnya akan mengalami perubahan jika fonem tersebut terletak sebelum fonem
yang mempengaruhinya, biasanya fonem ini diubah jika terletak di depan.
3.
Asimilasi Resiprokal yaitu asimilasi yag
terjadi jika kedua fonem saling mempengaruhi satu sama lain sehingga menjadi
bunyi yang lain.
Dalam penggunaan komunikasi sehari-hari baik lisan maupun
tulisan terdapat ketidak sesuaian antara kata bunyi yang dihasilkan dengan
ucapan manusia yang tidak sesuai dengan bentuk katanya dan disebut dengan
Gejala Bunyi. Contoh kata Sebab (sebap), Sabtu (saptu), Vas bunga (fas bunga),
2.2
Metode Penelitian
1.
Metode
dan teknik Pengumpulan Data
Wawancara
informasi merupakan salah satu metode pengumpulan data untuk memperoleh data
dan informasi dari siswa secara lisan. Proses wawancara dilakukan dengan cara
tatap muka secara langsung dengan siswa. Selama proses wawancara petugas
bimbingan mengajukan pertanyaan, meminta penjelasan dan jawaban dari pertanyaan
yang diberikan dan membuat catatan mengenai hal-hal yang diungkapkan kepadanya.
Secara garis besar ada dua macam pedoman wawancara, yaitu:
a. Pedoman Wawancara Tidak
Terstruktur
Yaitu
pedoman wawancara yang hanya memuat garis besar yang akan ditanyakan. Tentu
saja kreativitas pewawancara sangat diperlukan, bahkan hasil wawancara dengan
jenis pedoman ini lebih banyak tergantung dari pewawancara. Pewawancaralah
sebagai pengemudi jawaban responden. Jenis interviu ini cocok untuk penilaian
khusus.
b. Pedoman Wawancara
Terstruktur
Yaitu
pedoman wawancara yang disusun secara terperinci sehingga menyerupai
check-list. Pewawancara tinggal membubuhkan tanda (check) pada nomor yang
sesuai. Pedoman wawancara yang banyak digunakan adalah bentuk “semi
structured”. Dalam hal ini maka mula-mula interviewer menanyakan serentetan
pertanyaan yang sudah terstruktur, kemudian satu per satu diperdalam dalam
mengorek keterangan lebih lanjut. Dengan demikian jawaban yang diperoleh bisa
meliputi semua variabel, dengan keterangan yang lengkap dan mendalam.
Dalam Penelitian kali ini, kelompok kami menggunakan
teknik pengumpulan data secara wawancara, karena kelompok kami akan meneliti
gejala gejala fonologi, lebih mendalamnya mengenai asimilasi bunyi pada bahasa
Oseng, dan untuk mendapatkan data yang spesifik dari masyarakat, kami sepakat
untuk menggunakan metode wawancara yang tidak terstruktur.
2.
Metode
dan teknik Analisis Data
Pada penelitian kali ini, kelompok kami menggunakan
metode dan teknik analisi data dengan menggunakan metode penelitian kualitatif,
karena kami sebagai peneliti turut
berperan serta dalam observasi dengan cara mewawancarai masyarakat desa Kemiren
yang menggunakan Bahasa Oseng sebagai bahasa sehari-hari.
1.
Analisis Data Sebelum
di Lapangan
Analisis dalam tahap
ini dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau data sekunder yang
akan digunakan peneliti untuk menentukan fokus penelitian. Kelompok kami
mempelajari tentang gejala-gejala Fonologi, khususnya mengenai asimilasi bunyi
2. Analisis Data Selama di Lapangan
Pada tahap ini,
analisis data dilakukan dengan mengumpulkan data secara langsung melalui
wawancara atau observasi. Misalnya, pada saat wawancara berlangsung, peneliti
sudah melakukan analisis terhadap jawaban dari responden. Jika peneliti belum
puas dengan jawaban dari responden, maka peneliti bisa melanjutkan pertanyaan
lagi sampai batas tertentu diperoleh data yang valid.
3. Analisis Data Selesai di Lapangan
ada tahap akhir,
analisis data dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu sebagai berikut.
·
Analisis domain,
yaitu memperoleh gambaran umum dan menyeluruh dari objek penelitian atau
situasi sosial;
·
Analisis taksonomi,
yaitu penjabaran secara rinci dari analisis domain melalui observasi terfokus;
·
Analisis
komponensial, yaitu mencari cirri spesifik pada setiap detil struktur internal;
dan
·
Analisis tema
cultural, yaitu mencari hubungan antara domain, dan hubungannya dengan seluruh
komponen, akhirnya dapat
menentukan tema/judul penelitian.
2.3 Data
dan Sumber Data
Data yang akan kami teliti yaitu pelafalan
bahasa Oseng, untuk lebih jelasnya yakni kami akan meneliti asimilasi bunyi dalam
Bahasa Oseng yang digunakan warga setempat untuk berkomunikasi di kehidupan
sehari-hari. Sumber data yang kelompok kami peroleh yaitu dari masyarakat Desa
Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi.
2.4 Lokasi
dan Informasi
1.
Sejarah Desa
Asal mula kata
Kemiren menurut para sesepuh Desa, dahulu di Desa Kemiren saat pertama kali
ditemukan, desa tersebut masih berupa hutan dan terdapat banyak pohon kemiri
dan duren (durian) sehingga mulai saat itu, daerah
tersebut dinamakan “Desa Kemiren”.
Menurut sejarah
masyarakat Desa Kemiren berasal dari orang-orang yang mengasingkan diri dari
kerajaan Majapahit setelah kerajaan ini mulai runtuh sekitar tahun 1478 M.
Selain menuju ke daerah di ujung timur Pulau Jawa ini, orang-orang Majapahit
juga mengungsi ke Gunung Bromo (Suku Tengger) di Kabupaten Probolinggo, dan
Pulau Bali. Kelompok masyarakat yang mengasingkan diri ini kemudian mendirikan
kerajaan Blambangan di Banyuwangi yang bercorak Hindu-Buddha seperti halnya
kerajaan Majapahit. Kemudian masyarakat Kerajaan Blambangan berkuasa selama dua
ratusan tahun sebelum jatuh ke tangan kerajaan Mataram Islam pada tahun 1743 M.
Desa Kemiren ini
lahir pada zaman penjajahan Belanda, tahun 1830-an. Awalnya, desa ini hanyalah
hamparan sawah hijau dan hutan milik para penduduk Desa Cungking yang konon
menjadi cikal-bakal masyarakat Osing di Banyuwangi. Hingga kini Desa Cungking
juga masih tetap ada. Letaknya sekitar 5 km arah timur Desa Kemiren. Hanya
saja, saat ini kondisi Desa Cungking sudah menjadi desa kota. Saat itu,
masyarakat Cungking memilih bersembunyi di sawah untuk menghindari tentara
Belanda. Para warga enggan kembali ke desa asalnya di Cungking. Maka dibabatlah
hutan untuk dijadikan perkampungan. Hutan ini banyak ditumbuhi pohon kemiri dan
durian. Maka dari itulah desa ini dinamakan Kemiren. Pertama kali desa ini
dipimpin kepala desa bernama Walik. Sayangnya, tidak ada sumber jelas yang
menceritakan siapa Walik. Konon dia termasuk salah satu keturunan bangsawan.
2.
Karakteristik Desa
Desa Kemiren secara
administratif termasuk, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dan
secara historis geneologis-sosiologis masih memperlihatkan tata kehidupan
sosio-kultural yang mempunyai kekuatan nilai tradisional Osing sehingga pada
saat kepemimpinan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman, Desa Kemiren ditetapkan
menjadi kawasan wisata desa adat Osing. Osing merupakan salah satu komunitas
etnis yang berada di daerah Banyuwangi dan sekitarnya. Dalam lingkup lebih
luas, Osing merupakan salah satu bagian sub-etnis Jawa. Dalam peta wilayah
kebudayaan Jawa, Osing merupakan bagian wilayah Sabrang Wetan, yang
berkembang di daerah ujung timur Pulau Jawa. Keberadaan komunitas Osing
berkaitan erat dengan sejarah Blambangan (Scholte, 1927). Menurut Leckerkerker
(1923:1031), orang-orang Osing adalah masyarakat Blambangan yang tersisa.
Keturunan kerajaan Hindu Blambangan ini berbeda dari masyarakat lainnya (Jawa,
Madura dan Bali), bila dilihat dari adat-istiadat, budaya maupun bahasanya
(Stoppelaar, 1927).
Orang Osing menurut Andrew
Beatty (dalam buku The Variety of Javanese Religion)
diduga mereka adalah keturunan sisa-sisa penduduk tahun 1768. Meskipun dokumen
sebelumnya tidak menyebutkan nama itu. Para ahli sejarah lokal cukup yakin
bahwa julukan ”Osing” itu diberikan oleh para imigran
yang menemukan bahwa kata ”tidak” dalam dialek lokal
adalah ”Osing”, yang berbeda dari kata ”ora” dalam
bahasa Jawa. Orang yang sebenarnya Jawa itu kini disebut Osing saja atau juga
disebut Jawa Osing. Bernard Arps menyebutnya sebagai basa
Using atau basa Banyuwangen (dalam buku ”tembang
in two traditions”)
Desa Kemiren telah
ditetapkan sebagai Desa Osing yang sekaligus dijadikan cagar budaya untuk
melestarikan keosingannya. Area wisata budaya yang terletak di tengah desa itu
menegaskan bahwa desa ini berwajah Osing dan diproyeksikan sebagai cagar budaya
Osing. Banyak keistemewaan yang dimiliki oleh desa ini diantaranya adalah
penggunakan bahasa yang khas yaitu bahasa Osing. Bahasa ini memiliki ciri khas
yaitu ada sisipan “y” dalam pengucapannya. Seperti contoh berikut ini : madang (makan)
dalam bahasa Osing menjadi “madyang“, abang (merah)
dalam bahasa Osing menjadi “abyang“. Masyarakat desa ini masih
mempertahankan bentuk rumah sebagai bangunan yang memiliki nilai filosofi.
Adapun bentuk rumah tersebut meliputi rumah tikel balung atau
beratap empat yang melambangkan bahwa penghuninya sudah mantap, rumah
crocogan atau beratap dua yang mengartikan bahwa penghuninya
adalah keluarga yang baru saja membangun rumah tangga dan atau oleh keluarga
yang ekonominya relatif rendah, dan rumah baresan atau
beratap tiga yang melambangkan bahwa pemiliknya sudah mapan, secara materi
berada di bawah rumah bentuk tikel balung.
Keunikan lainnya
terdapat pada tradisi masyarakat yang mengkramatkan situs Buyut Cili,
tiap malam Senin dan malam Jumat warga yang akan membuat hajatan selalu
melakukan doa dengan membawa “pecel pitik” atau yang biasa kita
kenal dengan sebutan urap-urap ayam bakar di situsMbah Buyut Cili yang
dipercaya sebagai salah seorang leluhurnya. Di samping itu, bagi pendatang yang
bermalam di desa ini juga dianjurkan untuk berziarah ke situs Buyut Cili guna
meminta izin demi keselamatan dirinya serta dilancarkan urusannya selama berada
di Desa Kemiren. Bukan hanya itu, Buyut Cili ini
dipercaya untuk mengabulkan permintaan masyarakat yang berziarah, asalkan
permintaan tersebut harus bersifat baik. Salah satu caranya adalah dengan
meminta berbagai bunga yang ada di makam tersebut kepada penjaga makam kemudian
bunga tersebut dicampur dengan air untuk diminum tapi sebelumnya harus membaca
basmalah dan shalawat 3x.
Desa Kemiren,
terletak strategis ke arah menuju wisata Kawah Ijen, desa ini memiliki luas
117.052 m2 memanjang hingga 3 km yang di kedua sisinya dibatasi
oleh dua sungai, Gulung dan Soboyang mengalir dari barat ke
arah timur. Di tengah-tengahnya terdapat jalan aspal selebar 5 m yang
menghubungkan desa ini ke kota Banyuwangi di sisi timur dan
pemandian Tamansuruh dan ke perkebunan Kalibendo di sebelah barat. Untuk
bersekolah di atas SD, penduduk Kemiren harus menempuhnya di luar desa, ke
ibukota kecamatan yang berjarak 2 km atau ke kota Banyuwangi yang berjarak 5
km. Adapun batas wilayah desa adalah;
- Sebelah Utara :
Desa Jambesari
- Sebelah Selatan :
Desa Olehsari
- Sebelah Barat :
Desa Tamansuruh
- Sebelah Timur :
Kelurahan Banjarsari
Desa yang berada di ketinggian 144 m di atas permukaan
laut yang termasuk dalam topografi rendah dengan curah hujan 2000 mm/tahun
sehingga memiliki suhu udara rata-rata berkisar 22-26°C ini memang cukup enak
dan menarik dari sudut suhu udara dan pemandangan untuk wisata. Desa Kemiren.
Pada siang hari, terutama pada hari-hari libur, jalan yang membelah Desa
Kemiren ini cukup ramai oleh kendaraan umum dan pribadi yang menuju ke
pemandian Tamansuruh, perkebunan Kalibendo maupun ke lokasi wisata Desa Osing.
Di samping itu, sebagai pusat budaya Osing Desa Kemiren memiliki banyak seni
tari maupun musik. Adapun seni tersebut adalah :
- Gandrung
- Kuntulan
- Barong
- Gedhogan
- Mocoan lontar yusuf
- Burdah
- Jaran kencak
- Kiling
- Angklung paglak
- Angklung caruk
- Angklung tetak
- Angklung Blambangan
- Kenthulitan
- Seni ukir
- Tenun abaka
- Tulup
- Seni arsitektur rumah Osing
- Seni kerajinan pembuatan biola gandrung
- Seni kerajinan pembuatan barong Osing
3
Upacara adat yang ada
antara lain :
- Sedekah Syawal
- Sedekah Penampan
- Sedekah Kupatan
- Barong ider bumi
- Tumpeng sewu
- Rebo Wekasan (nyelameti banyu)
- Adeg-adeg tandur
- Selametan melecuti pari (saat
padi hamil)
- Selametan pari (akan panen)
- Selametan sapi (selesai
membajak sawah)
- Selametan kebonan
- Selametan jenang sumsum
- Selametan jenang lemu
- Selametan Syuroan
- Selametan nduduk lemah
- Selametan masang suwunan
- Selametan ngebangi umah
4
Model Masyarakat
Agraris Tradisional Desa Kemiren
Masyarakat Desa
Kemiren yang termasuk dalam masyarakat agraris tradisional yang memiliki
ciri-ciri yaitu:
1. Norma Partikularistik yang menonjol, yaitu norma yang
berlaku dalam hubungan masyarakat terbatas pada kelompok, tempat, waktu dan
keadaan tertentu.
2. Jenis pekerjaan masyarakat berisfat homogen,
kebanyakan petani
3. Mobilitas masyarakat rendah, terdapat keengganan dalam
diri masyarakat untuk berpindah-pindah, mereka berkumpul dengan famili dan
keluarga dalam formasi membangun rumah tempat tinggal
4. Sistem pelapisan kelompok masyarakat atau kelas-kelas
masih ada dan berdasar pada kehormatan usia dan kedudukan seseorang, ada yang
disebut sesepuh
5. Organisasi primer merupakan organisasi yang menonjol
di masyarakat yaitu, antara lain keluarga dan suku yang didasarkan atas
hubungan darah atau keturunan
6. Adanya swadaya masyarakat, yaitu penentuan kebutuhan
hidup dari hasil perekonomiannya. Dengan kata lain produksi barang-barang
ekonomi dipergunakan untuk kalangan sendiri, tata cara bertani menggunakan
tenaga hewan
7. Masih adanya penggunaan biaya untuk upacara-upacara
ritual yang merupakan kegiatan yang bersifat irasional
8. Dasar ekonominya berawal dari berdiri sendiri dalam
memenuhi kebutuhan dan tidak banyak bergantung pada mekanisme birokrasi
pemerintah
9. Pola hubungan masyarakat bersifat pribadi dan biasanya
disebut masyarakat paguyuban
Tidak ada komentar:
Posting Komentar