Bekal seorang apresiator adalah referensi membaca yang
banyak, menurut Aminudin bekal yang harus dimiliki seorang apresator adalah
bekal pengetahuan, bekal pengalaman dan bekal kesiapan diri. Bekal pengetahuan
merupakan bekal yang harus di miliki oleh seorang apresiator. Karena bekal
pengetahuan sangat berpengaruh dalam proses apresiasian karya. Jika seorang
apresiator memiliki pengetahuan yang luas maka apresiator tersebut dapat
mengabalisa dan merasakan karya sastra secara mendalam sampai ke akar
– akarnya dan begitu menghayati karya sastra tersebut. Begitu juga sebaliknya
jika seorang apresiator tidak cukup bekal pengetahuan yang sempit, maka dia
akan mengapresiasi kulit – kulit luarnya saja tanpa ada rasa penikmatan karya
secara mendalam. Bekal pengalaman juga tidak kalah penting. Bekal pengalaman
ada dua yaitu pengalaman hidup dan penggaulan, mengalaman hidup memberikan
andil besar dalam apresiasi karena dari pengalaman kita akan menemukan
pelajaran – pelajaran hidup yang bermakna sehingga apresiator dapat mangkaitkan
dengan proses apresiator yang sedang di lakukan. Menggauli karya sastra penting
sekali bagi apresiator. Karena untuk menghayati dan memahami seorang apresiator
harus sering bergulat dengan karya – karya sastra seperti membaca karya sastra,
membaca buku, menilis dll. Sehingga apresiator mendapat pengalaman yang banyak
dan bisa maksimal dalam pengapresiasiannya. Pengendalian diri merupakan
menjagaan emosi agar tetap stabil. Karena jika emosi tidak stabil baka akan
mengganggu proses penilaian karya sastra.
Jadi bekal awal seorang apresiator dapat di simpulkan
bahwa seorang apresiator harus peka
emosi dan perasaan sehingga penikmat sastra bisa memahami dan menikmati
estetika pada cipta sastra, memiliki pengetahuan dan pengalaman yang terkait
dengan makna hidup dan kehidupan, pengetahuan dan pemahaman terhadap aspek
kebahasan pada karya sastra, pengatahuan dan pemahaman terhadap unsur karya
sastra Pengetahuan dan pemahaman pada pendekatan apresiasi sastra,dan Kemampuan
awal dalam menganalisis karya sastra.
a.
Kepekaan emosi atau perasaan
sehingga mampu memahami dan menikmati unsur-unsur keindahan dalam cipta sastra,
b.
Pemilikan pengetahuan dan pengalaman
yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan masalah kemanusiaan, baik melalui
penghayatan kehidupan ini maupun dengan membaca buku yang berhubungan dengan
masalah kemanusiaan.
c.
Pemahaman terhadap aspek kebahasaan,
dan
d.
Pemahaman terhadap unsur-unsur
intrinsik cipta sastra yang akan berhubungan dengan telaah teori sastra.
Pentahapan
dalam kegiatan apresiasi sastra dilihat dari apa yang dilakukan oleh seorang
apresiator. Pada tahap pertama, seorang apresiator membiarkan pikirannya,
perasaan dan daya khayalnya mengembara sebebas mungkin mengikuti apa yang
dimaui oleh pengarang karya sastra yang dibacanya. Pada tahap ini apresiator
belum mengambil sikap kritis terhadap karya sastra yang dibacanya. Pada tahap
kedua, seorang apresiator menghadapi karya sastra secara intelektual. Ia
menanggalkan perasaan dan daya khayalnya, dan berusaha memahami karya sastra
tersebut dengan cara menyelidiki karya sastra dari unsur-unsur pembentuknya.
Ini berarti, apresiator memandang karya sastra sebagai sebuah struktur. Pada
tahapan ini, penyelidikan unsur-unsur karya sastra oleh apresiator dimaksudkan
untuk mendekatkan diri pada karya sastra itu. Pada tahap ketiga, apresiator
memandang karya sastra dalam kerangka historisnya. Artinya, ia memandang karya
sastra sebagai peribadi yang mempunyai ruang dan waktu. Dalam pandangannya,
tidak ada karya sastra yang tidak diciptakan dalam ruang dan waktu tertentu.
Dengan kata lain, pada tahapan ini seorang apresiator mencoba memahami karya
sastra dari unsur sosial budaya, situasi pengarang dan segala hal yang
melatarbelakangi karya sastra itu diciptakan.
Kaitannya
dengan pembelajaran di sekolah yakni, sebagai seorang guru, maka pembelajaran
tentang apresiasi harusnya berdasarkan tahap-tahap ini, maka sejak awal guru
harus lebih bisa menguasai dan menerapkan tahap-tahap apresiasi ini dalam
kegiatan belajar mengajar.
Secara etimologis,
pendekatan berasal dari kataappropio atau approach, yang artinya sebagai
jalan atau penghampiran. Jadi pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara
menghampiri suatu objek. Jadi pendekatan sastra adalah cara-cara yang
dilakukan oleh seorang penelaah untuk mengkaji sebuah karya sastra, agar dapat
memahaminya.
Mengapa diperlukan pendekatan sastra ?
1. Karena Ragam sastra sangat banyak dan berkembang
secara dinamis. Kondisi-kondisi perkembangan tersebut memerlukan cara pemahaman
yang berbeda-beda.
2. Kesulitan dalam memahami gejala sastra memicu para
ilmuwan untuk menemukan berbagai cara sebagai pendekatan yang baru. Dengan kata
lain, gejala sastra memunculkan hadirnya sejumlah masalah yang baru yang
menarik dan perlu dipecahkan).
Tujuan pendekatan adalah pengakuan terhadap
hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri.
Pada umumnya,
pendekatan itu kan dilakukan oleh apresiator untuk mengulas sebuah karya
sastra. Pendekatan apresiasi
yang digunakan pembaca pada waktu mengapresiasi sastra lebih banyak ditentukan
oleh:
1) Tujuan dan apa yang akan
diapresiasi lewat teks sastera yang dibacanya,
2) Kelangsungan apresiasi itu
terproses lewat kegiatan bagaimana,
3) Landasan teori yang digunakan
dalam kegiatan apresiasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar