Kamis, 01 September 2016

Bekal Apresiator

Bekal seorang apresiator adalah referensi membaca yang banyak, menurut Aminudin bekal yang harus dimiliki seorang apresator adalah bekal pengetahuan, bekal pengalaman dan bekal kesiapan diri. Bekal pengetahuan merupakan bekal yang harus di miliki oleh seorang apresiator. Karena bekal pengetahuan sangat berpengaruh dalam proses apresiasian karya. Jika seorang apresiator memiliki pengetahuan yang luas maka apresiator tersebut dapat mengabalisa dan merasakan karya sastra secara  mendalam sampai ke akar – akarnya dan begitu menghayati karya sastra tersebut. Begitu juga sebaliknya jika seorang apresiator tidak cukup bekal pengetahuan yang sempit, maka dia akan mengapresiasi kulit – kulit luarnya saja tanpa ada rasa penikmatan karya secara mendalam. Bekal pengalaman juga tidak kalah penting. Bekal pengalaman ada dua yaitu pengalaman hidup dan penggaulan, mengalaman hidup memberikan andil besar dalam apresiasi karena dari pengalaman kita akan menemukan pelajaran – pelajaran hidup yang bermakna sehingga apresiator dapat mangkaitkan dengan proses apresiator yang sedang di lakukan. Menggauli karya sastra penting sekali bagi apresiator. Karena untuk menghayati dan memahami seorang apresiator harus sering bergulat dengan karya – karya sastra seperti membaca karya sastra, membaca buku, menilis dll. Sehingga apresiator mendapat pengalaman yang banyak dan bisa maksimal dalam pengapresiasiannya. Pengendalian diri merupakan menjagaan emosi agar tetap stabil. Karena jika emosi tidak stabil baka akan mengganggu proses penilaian karya sastra.
            Jadi bekal awal seorang apresiator dapat di simpulkan bahwa seorang apresiator harus peka emosi dan perasaan sehingga penikmat sastra bisa memahami dan menikmati estetika pada cipta sastra, memiliki pengetahuan dan pengalaman yang terkait dengan makna hidup dan kehidupan, pengetahuan dan pemahaman terhadap aspek kebahasan pada karya sastra, pengatahuan dan pemahaman terhadap unsur karya sastra Pengetahuan dan pemahaman pada pendekatan apresiasi sastra,dan Kemampuan awal dalam menganalisis karya sastra.
             Aminuddin (1991: 38) mengemukakan empat macam yang harus dimiliki siswa sebagai bekal awal (prasyarat) dalam menganalis cerpen, yaitu :
a.     Kepekaan emosi atau perasaan sehingga mampu memahami dan menikmati unsur-unsur keindahan dalam cipta sastra,
b.     Pemilikan pengetahuan dan pengalaman yang berhubungan dengan masalah kehidupan dan masalah kemanusiaan, baik melalui penghayatan kehidupan ini maupun dengan membaca buku yang berhubungan dengan masalah kemanusiaan.
c.     Pemahaman terhadap aspek kebahasaan, dan
d.     Pemahaman terhadap unsur-unsur intrinsik cipta sastra yang akan berhubungan dengan telaah teori sastra.

Pentahapan dalam kegiatan apresiasi sastra dilihat dari apa yang dilakukan oleh seorang apresiator. Pada tahap pertama, seorang apresiator membiarkan pikirannya, perasaan dan daya khayalnya mengembara sebebas mungkin mengikuti apa yang dimaui oleh pengarang karya sastra yang dibacanya. Pada tahap ini apresiator belum mengambil sikap kritis terhadap karya sastra yang dibacanya. Pada tahap kedua, seorang apresiator menghadapi karya sastra secara intelektual. Ia menanggalkan perasaan dan daya khayalnya, dan berusaha memahami karya sastra tersebut dengan cara menyelidiki karya sastra dari unsur-unsur pembentuknya. Ini berarti, apresiator memandang karya sastra sebagai sebuah struktur. Pada tahapan ini, penyelidikan unsur-unsur karya sastra oleh apresiator dimaksudkan untuk mendekatkan diri pada karya sastra itu. Pada tahap ketiga, apresiator memandang karya sastra dalam kerangka historisnya. Artinya, ia memandang karya sastra sebagai peribadi yang mempunyai ruang dan waktu. Dalam pandangannya, tidak ada karya sastra yang tidak diciptakan dalam ruang dan waktu tertentu. Dengan kata lain, pada tahapan ini seorang apresiator mencoba memahami karya sastra dari unsur sosial budaya, situasi pengarang dan segala hal yang melatarbelakangi karya sastra itu diciptakan.

Kaitannya dengan pembelajaran di sekolah yakni, sebagai seorang guru, maka pembelajaran tentang apresiasi harusnya berdasarkan tahap-tahap ini, maka sejak awal guru harus lebih bisa menguasai dan menerapkan tahap-tahap apresiasi ini dalam kegiatan belajar mengajar.

Secara etimologis, pendekatan berasal dari kataappropio atau approach, yang artinya sebagai jalan atau penghampiran. Jadi pendekatan didefinisikan sebagai cara-cara menghampiri suatu objek.  Jadi pendekatan sastra adalah cara-cara yang dilakukan oleh seorang penelaah untuk mengkaji sebuah karya sastra, agar dapat memahaminya.
Mengapa diperlukan pendekatan sastra ?
1.      Karena Ragam sastra sangat banyak dan berkembang secara dinamis. Kondisi-kondisi perkembangan tersebut memerlukan cara pemahaman yang berbeda-beda.
2.      Kesulitan dalam memahami gejala sastra memicu para ilmuwan untuk menemukan berbagai cara sebagai pendekatan yang baru. Dengan kata lain, gejala sastra memunculkan hadirnya sejumlah masalah yang baru yang menarik dan perlu dipecahkan).
Tujuan pendekatan adalah pengakuan terhadap hakikat ilmiah objek ilmu pengetahuan itu sendiri.
Pada umumnya, pendekatan itu kan dilakukan oleh apresiator untuk mengulas sebuah karya sastra. Pendekatan apresiasi yang digunakan pembaca pada waktu mengapresiasi sastra lebih banyak ditentukan oleh:
1)     Tujuan dan apa yang akan diapresiasi lewat teks sastera yang dibacanya,
2)     Kelangsungan apresiasi itu terproses lewat kegiatan bagaimana,
3)     Landasan teori yang digunakan dalam kegiatan apresiasi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar