Terceritalah, setelah
malam tiba, dalam keadaan lelah Presiden Nirdawat masuk ke kamar tidur, dipeluk
oleh isterinya, kemudian digelandang ke dekat tempat tidur. Dengan lembut
isterinya memberinya beberapa ciuman, kemudian melepas baju Nirdawat, lalu
melepas kaos dalam Nirdawat, dan akhirnya menelungkupkan tubuh Nirdawat di
tempat tidur. Kemudian, dengan lembut pula isterinya memijit-mijit punggung Nirdawat.
( paragraf 9 )
”Nirdawat, cobalah
kita kenang kembali masa-masa pacaran kita dulu. Kita berjalan-jalan di kampus,
duduk-duduk di rumput, kemudian berjalan lagi ke bawah pohon jejawi, dan
berbincang mengenai keinginan-keinginan kita. Bagi kita itulah keinginan biasa,
tapi bagi teman-teman, keinginan itu merupakan cita-cita mulia.” ( paragraf 10
)
”Kau harus melakukan
sesuatu, Nirdawat, sekarang juga. Aku selalu mendampingimu,” kata isterinya
dengan lembut, lalu menciumi Nirdawat lagi dengan lembut pula. ( paragraf 25 )
Pendekatan Feminis yaitu
pendekatan yang didasari oleh pemikiran gender, khususnya oleh perempuan. Untuk
kali ini, pendekatan feminis yang saya gunakan untuk mengapresiasi cerpen ini
lebih mengarah pada optimalisasi peran wanita pada posisinya sebagai istri
tokoh utama pada cerpen.
Istri Nirdawat memiliki peran
yang cukup berpengaruh terhadap tokoh utama, yakni sebagai pemberi motivasi
terhadap suaminya ketika suaminya cukup lelah dalam menghadapi permasalahan di
negaranya. Walupun Nirdawat kurang ada waktu untuk sang istri, namun istri
Nirdawat dengan setulus hati tetap ada di saat Nirdawat membutuhkannya. Selain itu istri Nirdawat senantiasa
memberikan motivasi bagi suaminya.
Dalam cerpen ini feminisme
seorang istri berperan cukup optimal, karena ia merupakan satunya pemberi
semangat dan motvasi bagi tokoh utama yang sangat lelah dengan jabatannya
sebagai kepala negara. Pengungkapan nilai-nilai seorang perempuan yang
berpengaruh dalam cerpen ini, tertuang pada perilaku dan perwatakan Istri
Nirdawat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar