Kamis, 01 September 2016

Supernova, dengan Pendekatan Pragmatik



Karya sastra yang dinominasikan sebagai Indonesia’s Best Fiction Award 2000-2001 (Novel Fiksi Indonesia Terbaik 2000-2001) yang ditulis oleh Dewi Lestari dengan tebal 231 halaman ini memang sangat menarik untuk dibaca khususnya orang yang menggemari sains, karena buku ini memang didominasi oleh bahasa sains yang mudah dimengerti bagi mereka penyuka sains. Namun bukan hanya penyuka sains yang dapat menikmati karya sastra ini, orang yang awam terhadap sains juga tertarik untuk membaca dan mengetahui karya sastra yang diciptakan oleh Dee. Untuk para penikmat novel  yang awam terhadap bahasa sains jangan takut dan ragu untuk mulai membaca karya sastra sains fiksi ini karena di setiap halaman yang dihiasi istilah sains yang tidak dimengerti, selalu dilengkapi oleh footnote (catatan kaki) dan disitulah sisi menarik dan menantangnya dalam membaca novel ini.

Mungkin ada sedikit kendala yang dirasakan oleh para pembaca awam karena banyaknya istilah-istilah sains yang sulit dimengerti dan kerumitan dalam mencari penjelasan dari footnote yang cukup panjang dan menghabiskan banyak tempat dalam novel tersebut. Namun novel ini dinominasikan sebagai Novel Fiksi Indonesia Terbaik sebab memiliki keunikan bukan hanya karena dapat memasukan unsur sains yang sangat kental tapi juga dapat memadukan unsur keromantisan yang juga mewarnai novel ini dengan sangat baik. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya beberapa puisi puitis yang dapat disampaikan dengan apik melalui bahasa sains.

Sifat dari karakter tokoh yang diceritakan pun sangat kuat dan dapat terasa dengan jelas. Alur ceritanya juga tidak berbelit-belit dan tidak berbasa-basi sehingga pembaca disuguhi cerita yang jelas maksud dan tujuannya.
Sinopsis
Dikisahkan oleh Dee (Pangglan akrab bagi Dewi Lestari) ada dua pria yang mengalami penyimpangan perilaku seksual, mereka gay (homo) yang sudah menjalani kehidupan menyimpang mereka selama 10 tahun, Dhimas dan Ruben namanya. Mereka mengikat janji bahwa di tahun kesepuluh hubungan mereka. Mereka akan membuat roman sains yang romantis sekaligus puitis {hal. 13}. Diceritakan, Ruben, pria bernada angkuh itu termasuk geng anak beasiswa orang-orang sinis, kuper yang cuma cocok bersosialisasi dengan buku. Sementara Dhimas termasuk geng anak orang kaya, dari kalangan mahasiswa Indonesia yang berlebih harta yang tidak pernah Ruben suka {hal. 5}.

“Sepuluh tahun dari sekarang, aku harus membuat satu karya. Satu masterpiece. Satu tulisan atau riset yang membantu menjembatani semua percobaan sains,” kata Ruben. Lalu Dhimas setuju, “ Fine. Sepuluh tahun buatmu, sepuluh tahun juga buatku. Satu masterpiece. Roman yang berdimensi luas dan mampu menggerakkan hati banyak orang.

Mereka akan membungkus karya populis yang bisa dibaca banyak orang. Sebuah roman sains, romantis, puitis. Mereka membuat kisah cinta yang bukan biasa-biasa, kontroversial, ada pertentangan nilai moral dan sosial.

Dalam tulisan mereka diceritakan ada seorang pria yang dapat dikatakan sempurna, tampan, mapan, produktif, menarik, dan berjabatan tinggi. Tokoh tersebut bernama Ferre, dia begitu menarik sehingga diidolakan oleh kaum hawa. Ferre adalah pria sukses, 29 tahun, managing director perusahaan multinasional, tampan, tak tertarik terikat dengan wanita, tak pernah jatuh cinta. Sebuah konflik masa kecil akhirnya memisahkan dia dengan talenta alamiahnya, dan menjadikan dia robot sukses tapi hampa. Sampai akhirnya, semua berbanding terbalik, ketika Ksatria ini menemukan Sang Puteri.

Sang puteri adalah seorang wartawati dari sebuah tabloid wanita bersuamikan Arwin mencoba mewawancarai Ferre yang bernama Rana, entah karena pribadi keduanya yang sama-sama menarik keduanya pun saling tertarik dan menjalani hubungan terlarang antar seorang lajang dan seorang wanita bersuami atau biasa disebut selingkuh. Padahal Ferre bisa mendapatkan wanita cantik manapun yang ia inginkan dengan kekayaan dan ketampananya. Tapi tidak, bagi Ferre, Rana adalah sang puteri seperti pada khayalan masa kecilnya: “Ksatria jatuh cinta pada puteri bungsu dari kerajaan bidadari.” Mereka menjalin cinta, tanpa siapapun tahu, kecuali Ale, sahabat Ferre yang berkali-kali mengingatkan mereka ‘jangan bermain api’!

Arwin, suami Rana yang berasal dari keturunan ningrat, sama sekali tidak menaruh curiga pada sang istri, ia terlalu cinta pada Rana. Wanita bersuami yang mengalami ketidakpuasan dalam berumah tangga ini pun mencoba mencari kepuasan lain dari Ferre dan diceritakan hubungan mereka begitu mesra.

Suatu waktu Rana dihadapkan pada kenyataan bahwa Ia harus memilih antara Ferre, pria yang menjanjikan kepuasan namun tidak memberikan rasa aman saat bersamanya atau Arwin, pria mapan yang membosankan namun dapat memberikan rasa aman saat bersama Rana. Saat Rana merasa yakin akan Ferre, ternyata Arwin datang dengan sebongkah harapan bahwa ia akan membahagiakan Rana kelak. Bahkan ketika Arwin tahu Rana tak mencintainya dan lebih memilih Ferre, ia justru berkata: “kamu memang pantas mendapatkan yang lebih. Maafkan aku tidak pernah menjadi sosok yang kamu inginkan. Tidak menjadikan pernikahan ini seperti apa yang kamu impikan. Tapi aku teramat mencintaimu, istriku... atau bukan. Kamu tetap Rana yang kupuja. Dan aku yakin tidak akan ada yang melebihi perasaan ini. Andaikan saja kamu tahu.” Rana pun goyah dan memutuskan hubungannya dengan Ferre .

Ferre yang memang sedang dimabuk cinta Rana sedih setengah mati karena harapan yang sudah Ia bangun malah dilanda badai yang tak Ia duga akan Rana datangkan, sempat ia berfikir untuk bunuh diri. Namun seakan-akan ada seorang wanita, Diva, seorang wanita yang akan menyelamatkan Ferre dari keputusasaannya tentang hidup.

Diva, si Bintang Jatuh adalah model bertarif dolar yang laris manis di pasaran, 28 tahun, sangat cerdas, ia tahu segala sesuatu yang dapat digolongkan sebagai seorang wanita berwawasan sangat luas, cantik, kaya, mapan dan berpikiran maju. Ia memang seorang pelacur kelas kakap yang hanya menerima bayaran besar dalam bentuk dolar {hal 57}, dan tanpa seorang mucikari oleh karena itu ia ingin dikenal sebagai seorang wiraswasta (enterpreuneur) sejati. Pelanggannya pun hanya orang-orang berkantong tebal.

Ternyata Diva adalah tetangga seberang rumah Ferre, setiap malam sebelum mereka tidur dari jendela masing-masing mereka mengucapkan selamat tidur dan sepercik kekaguman terhadap pribadi masing-masing. Ferre pun berteman dekat dengan Diva dan berangsur-angsur pulih dari pengalaman pahitnya. Diva tahu segala sesuatu, ia pun paham detail kisah cinta Ferre, Rana, Arwin, karena mereka bertiga berkonsultasi dengan Diva ( di dunia virtual, dunia Supernova). Diva yang membuat Ferre lepas dari bayang-bayang bunuh diri karena putus cinta. Divalah si bintang jatuh yang bisa mengabulkan keinginan mereka bertiga. Ia memiliki kekuatan merangkum sinkronitas Ruben, Dhimas, Rana, Ferre, Irwan. Ternyata Ruben dan Dhimas digerakkan molekul pikirannya untuk menjadi dalang dari cerita ini. Jadi, sebenarnya mereka berdua hidup di molekul pikiran Supernova.



Gay Tidaklah Najis
Pendekatan prgamatik, yaitu pendekatan yang memandang prosa fiksi sebagai sesuatu yang dapat disebut bermakna apabila prosa fiksi tersebut sudah berhadapan dengan masyarakat pembacanya. Dan prosa fiksi tersebut harus memiliki manfaat tertentu. Manfaat karya sastra secara umum adalah menghibur pembaca, memberikan tambahan pengetahuan atau pengalaman tertentu kepada pembaca, menjadi media berkaca diri atau berintropeksi bagi pembacanya.
Dikisahkan oleh Dee (Pangglan akrab bagi Dewi Lestari) ada dua pria yang mengalami penyimpangan perilaku seksual, mereka gay (homo) yang sudah menjalani kehidupan menyimpang mereka selama 10 tahun, Dhimas dan Ruben namanya. Mereka mengikat janji bahwa di tahun kesepuluh hubungan mereka. Mereka akan membuat roman sains yang romantis sekaligus puitis {hal. 13}. Diceritakan, Ruben, pria bernada angkuh itu termasuk geng anak beasiswa orang-orang sinis, kuper yang cuma cocok bersosialisasi dengan buku. Sementara Dhimas termasuk geng anak orang kaya, dari kalangan mahasiswa Indonesia yang berlebih harta yang tidak pernah Ruben suka {hal. 5}.
Dalam novel supernova, diceritakan Dhimas seorang anak dari kalangan mahasiswa yang kaya raya dan Ruben, seorang mahasiswa yang terkesan kuper adalah seorang pasangan gay, seperti halnya yang diketahui, Indonesia adalah Negara yang masih menganggap pasangan gay adalah hal yang kurang baik bahkan tabu untuk kehidupan. Namun, dalam novel ini, pasangan gay diceritakan dapat membuat sebuah novel masterpiece yang berisi tentang kisah cinta yang bukan biasa-biasa, kontroversial, ada pertentangan nilai moral dan sosial.
Disini, kita sebagai pembaca, pasti secara tidak langsung dapat belajar dari penulis, bahwa seorang gay atau bahkan pasangan gay, tidak harus dikucilkan, mereka pun memiliki potensi kekreativan yang terkadang jauh lebih menarik dibandingkan dengan potensi kekreativan seorang manusia biasa ( tidak gay ). Seperti halnya dua tokoh di atas, walaupun mereka adalah pasangan gay, mereka mampu menulis novel yang masuk ke dalam best seller.
Namun entah mengapa, meskipun seseorang yang memiliki penyimpangan perilaku seksual seperti gay, masih banyak masyarakat yang mengucilkan mereka, padahal gay juga memiliki hak untuk merasakan kehidupan sebagai orang normal. Apalagi jika masyarakat menemui pasangan gay, pasti mereka akan berkata bahwa pasangan itu menjijikkan, tabu, dan apapun hal yang memiliki nilai negative. Seharusnya, seseorang yang memiliki penyimpangan perilaku seksual tidak harus dijauhi atau bahkan dikucilkan, karena terkadang mereka juga membutuhkan kita untuk menyalurkan bakat atau potensi dalam dirinya sebagai wujud kekreatifan yang ada dalam diri seorang manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar