Psikologi
sastra adalah sebuah interdisiplin antara psikologi dan sastra. Mempelajari
psikologi sastra sebenarnya sama halnya dengan mempelajari manusia dari sisi
dalam. Mungkin aspek “dalam” ini yang acap kali bersifat subjektif, yang
membuat para pemerhati sastra menganggapnya berat. Tetapi, dengan mempelajari
psikologi sastra seorang pembaca karya sastra dapat memahami sisi kedalaman
jiwa manusia secara jelas, amat luas dan amat dalam. Selain itu, langkah
pemahaman teori psikologi sastra dapat melalui tiga cara. Pertama, melalui
pemahaman teori-teori psikologi, kemudian dilakukan analisis terhadap suatu
karya sastra. Kedua, dengan cara terlebih dahulu menentukan sebuah karya sastra
sebagai obejek penelitian. Ketiga, secara simultan menemukan teori dan objek
penelitian.
Sebagai
salah satu karya sastra tulis, tokoh-tokoh manusia dalam sebuah cerita pendek
(cerpen) juga dapat dianalisis melalui sudut pandang psikologi sastra.
Kepribadian para tokoh akan digambarkan oleh pengarang melalui kekuatan
imajinasinya yang dapat diperoleh dari pengalaman hidup dan daya khayalnya.
Novel yang berjudul Supernova ”Ksatria, Puteri dan Bintang jatuh” dalam novel
ini tokoh yang hadir antara lain, Dhimas dan Ruben, lalu sosok Ferre dan Ale
sebagai sahabat sejati, Diva yang merupakan model papan kelas atas yang
memiliki pengetahuan yang sangat luas, Gio merupakan sosok laki-laki yang
spesial di hati Diva satu-satunya pria yang bisa menyetuh Diva, Rana sosok
perempuan bekerja sebagai wakil pimpinan redaksi, Arwin merupakan suami dari
Rana. Dalam novel ini memiliki kajian dari sisi psikologi, lebih tepatnya
psikologi sastra. Berikut ini akan di bahas tokoh-tokoh berserta kajian
psikologisnya, berikut ini pembahasannya
1.
A. Klasifikasi Emosinal
1.
Dhimas dan Ruben
Dalam
novel ini Dhimas dan Ruben merupakan sosok sesama jenis (laki-laki) yang
memliki ikatan tersendiri sehingga menimbulkan kesan sahabat yang tidak biasa
(hubungan homoseksual), hal ini didasari oleh pencapaian kebutuhan Rasa
dicintai dan memiliki. Hubungan ini dapat berupa hubungan antara dua jenis
kelamin yang berbeda ataupun sejenis dan dapat pula berhubungan dengan kelompok
masyarakat tertentu. Seseorang yang terdorong mencapai kebutuhan ini
adalah adanya keinginan agar dapat merasakan kehangatan, keramahan, saling
mencinta dan saling memiliki. Berikut kutipannya,
“Kita
hanya dua orang pria tak punya nama belakang di dalam kamar kerja bertugas jadi
dalang untuk cerita seseorang dan selamanya tinggal dalam sebuah molekul
pikiran.”
“Bagaimana
kalau dia amnesia?”
“Kita
tamat.”
Keduanya
terdiam dengan perasaan campur aduk.
“Ruben..”
‘Ya?”
“Aku
mencintaimu.”
“Ha?”
“setidaknya
aku tamat dalam rasa cinta.”
“Aku
juga mencintaimu.”
Mereka
lalu berpegangan erat. Dua pria yang tak punya nama belakang di dalam sebuah
kamar kerja. Saling mencintai.
Lalu
pada bagian awal juga muncul sikap romantis mereka saat merayakan hari jadi
ke-10, berikut ini kutipannya
“Happy
10th Anniversary Ruben.”
“Happy
Anniversary to you too, my dear soulmate.”
1.
Rana dan Arwin
Meupakan
pasangan suami-istri, mereka menikah pada saat Rana baru lulus kuliah, Arwin
merupakan pria santun dari keluarga ningrat berusia tujuh tahun lebih tua, Rana
merupakan. Tetapi pernikahan mereka mulai di landa “badai” saat Rana berjumpa
dengan Ferre yang tidak lain adalah pengusaha kelas atas. Pekerjaan sebagai
wartawan menuntut dirinya untuk mencari narasumber yang berkelas dan memiliki
wawasan luas. Rana memiliki ikatan tersendiri dengan Ferre yang seharusnya
menjadi narasumber berubah menjadi kekasihnya walaupun Rana sudah memiliki
ikatan dengan Arwin Dalam diri Arwin timbul sisi psikologis yang disebut dengan
Rasionalisasi, rasionalisasi memiliki dua tujuan, untuk bagian pertama untuk
mengurangi kekecewaan ketika kita gagal mencapai suatu tujuan dan untuk bagian
yang kedua memberikan kita motif yang dapat diterima atas perilaku, berikut ini
kutipannya
“Ya,
aku memang tidak pernah pantas memilikinya, Bertahun-tahun aku tahu itu, tapi
aku diam saja. Egois. Tidak pernah satu detik pun aku mampu membuat Rana
bersinar bahagia seperti itu. Aku pikir aku telah seluruh mencintai, padahal
aku hanyalah batu penghalang bagi kebahagiaannya. Maafkan aku, Rana. Hanya
sebeginilah kemampuanku. Andaikan aku bisa berbuat lebih…
“Aku
berjanji Rana. Begitu engkau sembuh nanti, aku akan menjadikanmu wanita paling
bahagia di dunia. Mungkin itulah satu-satunya kesempatanku. Aku janji.
1.
Ferre
Sosok
laki-laki yang memiliki jabatan dan kekayaan, memiliki sahabat yang bernama
Ale, Dalam kehidupannya Ferre merupakan laki-laki yang mudah jatuh cinta
pandangan pertama, dalam klasifikasi emosi cinta merupakan perasaan tertarik
kepada pihak lain dengan harapan sebaliknya, cinta diikuti dengan perasaan
setia dan sayang. Berikut ini kutipan saat Ferre berjumpa dengan Rana
“Wawancara
yang sangat menarik, terima kasih. Bukti terbitnya akan saya kirim.” Rana
bangkit.
“Tidak
ada kartu nama?”
“Oh,
ya … sebentar,” dengan sigap Rana mengambil selembar, menuliskan nomor telepon genggamnya,
dan merasa lega. Ia ingin meninggalkan jejak.
“Ini
kartu nama saya.” Re langsung menuliskan nomor hp-nya,
Rana
benar-benar lega,
“Rana..”
Gadis
itu menoleh, bola matanya bersinar indah. Taka da yang bisa memungkiri,
ternyata di sanalah hati Re tertambat. Di sinar mata yang siap mendobrak
kungkungan demi mimpi yang setinggi langit. Sinar mata yang mengingatkan pada
dirinya sendiri.
“Kamu
abak bungsu?”
“Kok
tahu?”
Re
Cuma tersenyum kecil, mengangkat bahu.
Puteri
bungsu dari Kerajaan Bidadari. Tak kusangka akan menemukanmu secepat ini.
Ferre
juga mengalami situasi kecemasan secara psikolgis yang besar karena dirinya
mendapat kabar bahwa Rana masuk ke Rumah Sakit. Kecemasan merupakan situasi apa
pun yang mengancam kenyamanan suatu organisme diasumsikan melahirkan suatu
kondisi yang disebut anxitas. Berbagai konflik dan bentuk frustasi yang
menghambat kemajuan individu untuk mencapai tujuan merupakan salah satu sumber
anxitas. Ancaman dalam artian berupa ancaman fisik, psikis, dan berbagai
tekanan yang mengakibatkan timbulnya anxitas. Kondisi ini diikuti dengan
perasaan tidak nyaman yang dicirikan dengan istilah khawatir, takut, tidak
bahagia yang dapat dirasakan melalui berbagai level. Berikut ini kutipannya,
“Pukul
sebelas siang. Teleponnya berdering. Re mengerutkan kening.
“Halo,ya,
bisa telepon lagi nanti? Saya sedang meeting.
”Re..”
suara Rana begitu lemah, berbisik lirih,”aku masuk Rumah Sakit.”
Wajahnya
seketika pucat.”Bukan…jantungmu,kan?” Tanya Re tegang
“Jantungku
sayang,” suara lemah itu kian mengibakan. Di dekat belahan dadanya, Rana
memiliki bekas jahitan operasi….
“Jantungku…katanya,
aku jatuh cinta. Terlalu dalam.” Terdengar Rana Tertawa kecil.
Puteri
jangan main-main,,” Re benar-benar kacau balau.
….
Lama
ia terdiam di gedung Rumah Sakit. Resah, dan mulai salah tingkah. Tidak pernah
ia seteriska ini. Re meraih telepon genggamnya, dan dengan tatapan kosong ia
memencet nomor telepon Ale. Tidak disambungkan. Ia hanya bicara sendiri di dalam
hati: Ale, tolong aku. Aku Cuma bisa menemuinya lima menit, itu pun bersama
Sembilan orang lain. Aku tak tahan dengan tatapan orang-orang yang seperti
mempertanyakan keberadaanku di situ. Lima menit, Le! Melihatnya tergolek tanpa
bisa memeluknya. Aku cuma bisa bilang semoga cepat sembuh dan mesem-mesem dari
ujung tempat tidur. Aku ingin terus di sini, menungguinya semalam suntuk. Tapi
kenapa jadinya harus mencurigakan? Kenapa harus tampak tidak wajar? Kenapa aku
tidak boleh di sini? Le, tolong…
Selain
hal tersebut tokoh Ferre juga memiliki permasalahan yang kompleks yaitu tentang
Rasa Bersalah. Dalam psikologi ras bersalah merupakan suatu keadaan yang
bersifat ringan dan cepat berlalu, tetapi dapat pula bertahan lama. Terdapat
perbedaan yang tajam dalam diri seseorang dalam menangkap situasi yang menjurus
pada rasa bersalah. Ada orang yang sadar apa yang harus dilakukannya dan
memahami bahwa dirinya telah melanggar suatu keharusan. Berikut ini kutipannya,
“Sejenak
ia merasa telah disuguhkan pertunjukan dagelan. Kekonyolan panjang nan tragis,
dibumbui dramatisasi ala opera sabun yang memuakkan, dengan ambisi ala sinetron
bersekuel-sekuel yang membuat mual perut. Penonton pun tak bisa membedakan lagi
air mata apa yang berlinang di pipi mereka. Tangiskah..atau malah tawa.
Yang
jelas pipinya bersih. Tak ternoda air apa pun. Kelenjar air matanya
mengeras, seiring dengan hatinya yang membatu.
Perlahan
runutan getaran sel abu-abunya kembali terhampar. Kalau saja ia tidak
mengajaknya makan siang…
Kalau
saja ia punya lebih banyak kesibukan pada pagi itu.
Kalau
saja ia menolak wawancara itu.
Kalau
saja hari itu tidak perlu ada.
Kalau
saja ia tdak perlu ADA..
Sisi
yang lain dalam diri Ferre juga melibatkan Naluri Kematian dan keinginan mati,
sesungguhnya Ferre sudah putus asa dalam menjalani hidup hal tersebut diperkuat
dengan kematian ibunya karena sang ayah mempunyai istri yang lain. Dalam
psikologi naluri kematian dan keinginan mati dilandasi oleh dua energi mendasar
antara lain naluri kehidupan yang dimanifestasikan dalam perilaku seksual,
menunjang kehidupan serta pertumbuhan. Untuk bagian kedua naluri kematian yang
mendasari tindakan agresif dan destruktif. Naluri kematian dapat menjurus pada
tindakan bunuh diri atau pengrusakan diri atau bersikap agresif terhadap orang
lain. Dalam hal ini pertentangan antara keinginan untuk bebas dengan adanya
kematian dengan perasaan sebaliknya karena ia merasa khawatir bahwa keinginan
tersebut dapat mengancam dirinya. Berikut ini kutipannya,
“Tangannya
sedingin es. Baru 60 jam, tapi darahnya sudah kepingin cepat-cepat berhenti
mengalir, Seklias Re melihat pantulan dirinya di gagang pistol yang mengkilap..
ia pun tersenyum, mengerikan, El Maut ternyata cukup gagah untuk seorang Kepala
Departemen Alam Kubur.”
“Nafasnya
memburu, tetapi tidak ada tanda keraguan. Ia malah terlihat sangat tenang.
Dibawanya silinder itu menancap di pelipis kanan.
[
Re selalu ingin memilih yang kanan. Ia menganggap otak kanannyalah yang paling
bertanggung jawab. Sumber dari segala polemik kognitif yang mengacaukan
sistemasi otak kirinya yang tertata rapi. Atau jangan-jangan keduanya
berkomplot?]
Titik
target berpindah. Kini pistol itu tepat menancap di tengah-tengah keningnya.
[Katanya,
di situ ada mata ketiga . Sial amat kalau begitu. Padahal ia tak mau melihat
apa-apa lagi sesudah tewas nanti. Ia ingin buta dari dunia. Total]
Re
memejamkan mata. Mati sepertinya begitu nikmat. Kenapa juga dulu ia pernah
dilahirkan,
Ferre
dalam menjalani hidup bersama Rana juga mengalami kecemburuan, hal itu terjadi
saat Re mengunjungi Rumah Sakit tempat Rana dirawat. Dalam psikologi
kecemburuan termasuk ke dalam Kebencian, karena berhubungan erat dengan persaan
marah, cemburu dan iri hati. Berikut ini kutipannya,
“Ada
Re di dalamnya, menatap plang jalan itu dengan resah.
Ia
yakin, Rana akan mencak-mencak kalau tahu ia tidak datang hanya
karena..karena.. Re menjatuhkan kepalanya ke atas kemudi. Karena cemburu.
Kecemburuan aneh yang hanya ia mengerti sendiri.”
Ferre
juga memiliki sifat Apatis, Apatos merupakan bentuk lain dari reaksi terhadap
frustasi, yaitu dengan cara menarik diri dan bersikap seakan-akan pasrah.
Berikut ini kutipannya,
“Aku
adalah manusia statistis.”
“Statistik
kita tidak bagus, Puteri.”
Aku
adalah manusia yang butuh pengakuan.”
“Tak
kutemukan satu orang pun yang mengakui kita”
1.
Diva
Diva
merupakan sosok wanita yang memiliki pekerjaan sebagai model papan kelas atas,
kehidupannya sangat glamor, tetapi wanita ini memiliki kemampuan berpikir
kritis dan memiliki wawasan yang luas sehingga apabila berbicara dengannya
pasti mudah. Tapi disisi lain Diva memiliki kesedihan yang mendalam karena
beban hidup yang dirinya alami. Kesedihan dalam psikologi dapat berhubungan
dengan kehilangan sesuatu yang penting atau bernilai. Berikut ini kutipannya,
“Di
kamarnya, memakai kaos oblong putih dan celana pendek, Diva duduk menghadap
jendela. Taka da lagi yang dapat ia lakukan selain memeluk bantal keci, dan
terus menangis. Ia ingin membiarkan semuanya lepas. Kepenatan itu. Tubuhnya
masih cukup peka untuk memberikan sinyal bahwa ia tidak mampu menanggung semua.
Karena itulah ia menangis.
Bagaimanapun,
kepedihan ini tetap terasa tajam. Menjadikannya terisak dan tersengal sampai
lemas. Tapi ia harus membiarkan semua ini lewat…kembali bersih…tercuci.
Dalam
perjalanan Diva, dirinya juga bertemu dengan sosok laki-laki yang sangat
memiliki tempat istimewa dalam hatinya, yaitu Gio. Cinta mereka tumbuh hal itu
berawal saat Gio berusia masih muda, cinta merupakan perasaan tertarik pada
pihak lain dengan harapan sebaliknya. Cinta diikuti dengan perasaan setia dan
sayang. Gairah seksual yang kuat kerap timbul dari perasaan cinta. Berikut ini,
kutipannya
“Perlahan
dan tenang, Gio menyentuh lembut dagunya, memisahkan kedua bibirnya, untuk
kemudian menciumnya tenang. Ia bukan lagi anak lelaki gugup beberapa jam yang
lalu. Seakan-akan ia telah bermetamorfosis dengan sempurna.
Tak
pernah Diva membiarkan hal itu terjadi sebelumnya, tetapi mala mini ia yakin
telah mengambil keputusan yang tepat, membiarkan bibir itu disana. Membiarkan
dirinya bermanja dalam pengalaman yang jarang ia dapatkan. Mengetahui lagi rasa
jutaan saraf kecil yang memercikkan listrik-listrik bening ketika dua bibir
bertemu.”
1.
Gio
Laki-laki
merupakan peranakan Indo, dirinya merupakan laki-laki yang gemar kan
berpetualang khususnya wisata alam, dirinya pernah mengunjungi sungai Yuatm
Watutm dan Wanghi di daerah Irian Jaya. Gio merupakan sosok yang istimewa di
hati Diva, hanya dirinya yang dapat menyentuh Diva. Sosok Gio yang mesra
membuat Diva terpikat padanya, Gio memilki cinta yang mendalam terhadap Diva.
Terlihat pada saat berjumpa dengan Diva berikut kutipannya
“Perlahan
dengan tenang, Gio menyentuh lembut dagunya, memisahkan kedua bibirnya, untuk
kemudian menciumnya tenang. Ia bukan lagi anak lelaki gugup beberapa jam yang lalu.
Seakan-akan ia telah bermetaformosis dengan sempurna.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar