Kamis, 01 September 2016

Psikologi tokoh Supernova Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh



Psikologi sastra adalah sebuah interdisiplin antara psikologi dan sastra. Mempelajari psikologi sastra sebenarnya sama halnya dengan mempelajari manusia dari sisi dalam. Mungkin aspek “dalam” ini yang acap kali bersifat subjektif, yang membuat para pemerhati sastra menganggapnya berat. Tetapi, dengan mempelajari psikologi sastra seorang pembaca karya sastra dapat memahami sisi kedalaman jiwa manusia secara jelas, amat luas dan amat dalam. Selain itu, langkah pemahaman teori psikologi sastra dapat melalui tiga cara. Pertama, melalui pemahaman teori-teori psikologi, kemudian dilakukan analisis terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan cara terlebih dahulu menentukan sebuah karya sastra sebagai obejek penelitian. Ketiga, secara simultan menemukan teori dan objek penelitian. 
Sebagai salah satu karya sastra tulis, tokoh-tokoh manusia dalam sebuah cerita pendek (cerpen) juga dapat dianalisis melalui sudut pandang psikologi sastra. Kepribadian para tokoh akan digambarkan oleh pengarang melalui kekuatan imajinasinya yang dapat diperoleh dari pengalaman hidup dan daya khayalnya. Novel yang berjudul Supernova ”Ksatria, Puteri dan Bintang jatuh” dalam novel ini tokoh yang hadir antara lain, Dhimas dan Ruben, lalu sosok Ferre dan Ale sebagai sahabat sejati, Diva yang merupakan model papan kelas atas yang memiliki pengetahuan yang sangat luas, Gio merupakan sosok laki-laki yang spesial di hati Diva satu-satunya pria yang bisa menyetuh Diva, Rana sosok perempuan bekerja sebagai wakil pimpinan redaksi, Arwin merupakan suami dari Rana. Dalam novel ini memiliki kajian dari sisi psikologi, lebih tepatnya psikologi sastra. Berikut ini akan di bahas tokoh-tokoh berserta kajian psikologisnya, berikut ini pembahasannya
1.     A.    Klasifikasi Emosinal

1.     Dhimas dan Ruben
Dalam novel ini Dhimas dan Ruben merupakan sosok sesama jenis (laki-laki) yang memliki ikatan tersendiri sehingga menimbulkan kesan sahabat yang tidak biasa (hubungan homoseksual), hal ini didasari oleh pencapaian kebutuhan Rasa dicintai dan memiliki. Hubungan ini dapat berupa hubungan antara dua jenis kelamin yang berbeda ataupun sejenis dan dapat pula berhubungan dengan kelompok masyarakat tertentu. Seseorang yang terdorong mencapai  kebutuhan ini adalah adanya keinginan agar dapat merasakan kehangatan, keramahan, saling mencinta dan saling memiliki. Berikut kutipannya,
“Kita hanya dua orang pria tak punya nama belakang di dalam kamar kerja bertugas jadi dalang untuk cerita seseorang dan selamanya tinggal dalam sebuah molekul pikiran.”
“Bagaimana kalau dia amnesia?”
“Kita tamat.”
Keduanya terdiam dengan perasaan campur aduk.
“Ruben..”
‘Ya?”
“Aku mencintaimu.”
“Ha?”
“setidaknya aku tamat dalam rasa cinta.”
“Aku juga mencintaimu.”
Mereka lalu berpegangan erat. Dua pria yang tak punya nama belakang di dalam sebuah kamar kerja. Saling mencintai.
Lalu pada bagian awal juga muncul sikap romantis mereka saat merayakan hari jadi ke-10, berikut ini kutipannya
“Happy 10th Anniversary Ruben.”
“Happy Anniversary to you too, my dear soulmate.”


1.     Rana dan Arwin

Meupakan pasangan suami-istri, mereka menikah pada saat Rana baru lulus kuliah, Arwin merupakan pria santun dari keluarga ningrat berusia tujuh tahun lebih tua, Rana merupakan. Tetapi pernikahan mereka mulai di landa “badai” saat Rana berjumpa dengan Ferre yang tidak lain adalah pengusaha kelas atas. Pekerjaan sebagai wartawan menuntut dirinya untuk mencari narasumber yang berkelas dan memiliki wawasan luas. Rana memiliki ikatan tersendiri dengan Ferre yang seharusnya menjadi narasumber berubah menjadi kekasihnya walaupun Rana sudah memiliki ikatan dengan Arwin Dalam diri Arwin timbul sisi psikologis yang disebut dengan Rasionalisasi, rasionalisasi memiliki dua tujuan, untuk bagian pertama untuk mengurangi kekecewaan ketika kita gagal mencapai suatu tujuan dan untuk bagian yang kedua memberikan kita motif yang dapat diterima atas perilaku, berikut ini kutipannya
“Ya, aku memang tidak pernah pantas memilikinya, Bertahun-tahun aku tahu itu, tapi aku diam saja. Egois. Tidak pernah satu detik pun aku mampu membuat Rana bersinar bahagia seperti itu. Aku pikir aku telah seluruh mencintai, padahal aku hanyalah batu penghalang bagi kebahagiaannya. Maafkan aku, Rana. Hanya sebeginilah kemampuanku. Andaikan aku bisa berbuat lebih…
“Aku berjanji Rana. Begitu engkau sembuh nanti, aku akan menjadikanmu wanita paling bahagia di dunia. Mungkin itulah satu-satunya kesempatanku. Aku janji.

1.     Ferre
Sosok laki-laki yang memiliki jabatan dan kekayaan, memiliki sahabat yang bernama Ale, Dalam kehidupannya Ferre merupakan laki-laki yang mudah jatuh cinta pandangan pertama, dalam klasifikasi emosi cinta merupakan perasaan tertarik kepada pihak lain dengan harapan sebaliknya, cinta diikuti dengan perasaan setia dan sayang. Berikut ini kutipan saat Ferre berjumpa dengan Rana
“Wawancara yang sangat menarik, terima kasih. Bukti terbitnya akan saya kirim.” Rana bangkit.
“Tidak ada kartu nama?”
“Oh, ya … sebentar,” dengan sigap Rana mengambil selembar, menuliskan nomor telepon genggamnya, dan merasa lega. Ia ingin meninggalkan jejak.
“Ini kartu nama saya.” Re langsung menuliskan nomor hp-nya,
Rana benar-benar lega,
“Rana..”
Gadis itu menoleh, bola matanya bersinar indah. Taka da yang bisa memungkiri, ternyata di sanalah hati Re tertambat. Di sinar mata yang siap mendobrak kungkungan demi mimpi yang setinggi langit. Sinar mata yang mengingatkan pada dirinya sendiri.
“Kamu abak bungsu?”
“Kok tahu?”
Re Cuma tersenyum kecil, mengangkat bahu.
Puteri bungsu dari Kerajaan Bidadari. Tak kusangka akan menemukanmu secepat ini.

Ferre juga mengalami situasi kecemasan secara psikolgis yang besar karena dirinya mendapat kabar bahwa Rana masuk ke Rumah Sakit. Kecemasan merupakan situasi apa pun yang mengancam kenyamanan suatu organisme diasumsikan melahirkan suatu kondisi yang disebut anxitas. Berbagai konflik dan bentuk frustasi yang menghambat kemajuan individu untuk mencapai tujuan merupakan salah satu sumber anxitas. Ancaman dalam artian berupa ancaman fisik, psikis, dan berbagai tekanan yang mengakibatkan timbulnya anxitas. Kondisi ini diikuti dengan perasaan tidak nyaman yang dicirikan dengan istilah khawatir, takut, tidak bahagia yang dapat dirasakan melalui berbagai level. Berikut ini kutipannya,
“Pukul sebelas siang. Teleponnya berdering. Re mengerutkan kening.
“Halo,ya, bisa telepon lagi nanti? Saya sedang meeting.
”Re..” suara Rana begitu lemah, berbisik lirih,”aku masuk Rumah Sakit.”
Wajahnya seketika pucat.”Bukan…jantungmu,kan?” Tanya Re tegang
“Jantungku sayang,” suara lemah itu kian mengibakan. Di dekat belahan dadanya, Rana memiliki bekas jahitan operasi….
“Jantungku…katanya, aku jatuh cinta. Terlalu dalam.” Terdengar Rana Tertawa kecil.
Puteri jangan main-main,,” Re benar-benar kacau balau.
….
Lama ia terdiam di gedung Rumah Sakit. Resah, dan mulai salah tingkah. Tidak pernah ia seteriska ini. Re meraih telepon genggamnya, dan dengan tatapan kosong ia memencet nomor telepon Ale. Tidak disambungkan. Ia hanya bicara sendiri di dalam hati: Ale, tolong aku. Aku Cuma bisa menemuinya lima menit, itu pun bersama Sembilan orang lain. Aku tak tahan dengan tatapan orang-orang yang seperti mempertanyakan keberadaanku di situ. Lima menit, Le! Melihatnya tergolek tanpa bisa memeluknya. Aku cuma bisa bilang semoga cepat sembuh dan mesem-mesem dari ujung tempat tidur. Aku ingin terus di sini, menungguinya semalam suntuk. Tapi kenapa jadinya harus mencurigakan? Kenapa harus tampak tidak wajar? Kenapa aku tidak boleh di sini? Le, tolong…
Selain hal tersebut tokoh Ferre juga memiliki permasalahan yang kompleks yaitu tentang Rasa Bersalah. Dalam psikologi ras bersalah merupakan suatu keadaan yang bersifat ringan dan cepat berlalu, tetapi dapat pula bertahan lama. Terdapat perbedaan yang tajam dalam diri seseorang dalam menangkap situasi yang menjurus pada rasa bersalah. Ada orang yang sadar apa yang harus dilakukannya dan memahami bahwa dirinya telah melanggar suatu keharusan. Berikut ini kutipannya,
“Sejenak ia merasa telah disuguhkan pertunjukan dagelan. Kekonyolan panjang nan tragis, dibumbui dramatisasi ala opera sabun yang memuakkan, dengan ambisi ala sinetron bersekuel-sekuel yang membuat mual perut. Penonton pun tak bisa membedakan lagi air mata apa yang berlinang di pipi mereka. Tangiskah..atau malah tawa.
Yang jelas pipinya bersih. Tak ternoda air apa pun. Kelenjar air matanya  mengeras, seiring dengan hatinya yang membatu.
Perlahan runutan getaran sel abu-abunya kembali terhampar. Kalau saja ia tidak mengajaknya makan siang…
Kalau saja ia punya lebih banyak kesibukan pada pagi itu.
Kalau saja ia menolak wawancara itu.
Kalau saja hari itu tidak perlu ada.
Kalau saja ia tdak perlu ADA..
Sisi yang lain dalam diri Ferre juga melibatkan Naluri Kematian dan keinginan mati, sesungguhnya Ferre sudah putus asa dalam menjalani hidup hal tersebut diperkuat dengan kematian ibunya karena sang ayah mempunyai istri yang lain. Dalam psikologi naluri kematian dan keinginan mati dilandasi oleh dua energi mendasar antara lain naluri kehidupan yang dimanifestasikan dalam perilaku seksual, menunjang kehidupan serta pertumbuhan. Untuk bagian kedua naluri kematian yang mendasari tindakan agresif dan destruktif. Naluri kematian dapat menjurus pada tindakan bunuh diri atau pengrusakan diri atau bersikap agresif terhadap orang lain. Dalam hal ini pertentangan antara keinginan untuk bebas dengan adanya kematian dengan perasaan sebaliknya karena ia merasa khawatir bahwa keinginan tersebut dapat mengancam dirinya. Berikut ini kutipannya,
“Tangannya sedingin es. Baru 60 jam, tapi darahnya sudah kepingin cepat-cepat berhenti mengalir, Seklias Re melihat pantulan dirinya di gagang pistol yang mengkilap.. ia pun tersenyum, mengerikan, El Maut ternyata cukup gagah untuk seorang Kepala Departemen Alam Kubur.”
“Nafasnya memburu, tetapi tidak ada tanda keraguan. Ia malah terlihat sangat tenang. Dibawanya silinder itu menancap di pelipis kanan.
[ Re selalu ingin memilih yang kanan. Ia menganggap otak kanannyalah yang paling bertanggung jawab. Sumber dari segala polemik kognitif yang mengacaukan sistemasi otak kirinya yang tertata rapi. Atau jangan-jangan keduanya berkomplot?]
Titik target berpindah. Kini pistol itu tepat menancap di tengah-tengah keningnya.
[Katanya, di situ ada mata ketiga . Sial amat kalau begitu. Padahal ia tak mau melihat apa-apa lagi sesudah tewas nanti. Ia ingin buta dari dunia. Total]
Re memejamkan mata. Mati sepertinya begitu nikmat. Kenapa juga dulu ia pernah dilahirkan,
Ferre dalam menjalani hidup bersama Rana juga mengalami kecemburuan, hal itu terjadi saat Re mengunjungi Rumah Sakit tempat Rana dirawat. Dalam psikologi kecemburuan termasuk ke dalam Kebencian, karena berhubungan erat dengan persaan marah, cemburu dan iri hati. Berikut ini kutipannya,
“Ada Re di dalamnya, menatap plang jalan itu dengan resah.
Ia yakin, Rana akan mencak-mencak kalau tahu ia tidak datang hanya karena..karena.. Re menjatuhkan kepalanya ke atas kemudi. Karena cemburu. Kecemburuan aneh yang hanya ia mengerti sendiri.”
Ferre juga memiliki sifat Apatis, Apatos merupakan bentuk lain dari reaksi terhadap frustasi, yaitu dengan cara menarik diri dan bersikap seakan-akan pasrah. Berikut ini kutipannya,
“Aku adalah manusia statistis.”
“Statistik kita tidak bagus, Puteri.”
Aku adalah manusia yang butuh pengakuan.”
“Tak kutemukan satu orang pun yang mengakui kita”
1.     Diva
Diva merupakan sosok wanita yang memiliki pekerjaan sebagai model papan kelas atas, kehidupannya sangat glamor, tetapi wanita ini memiliki kemampuan berpikir kritis dan memiliki wawasan yang luas sehingga apabila berbicara dengannya pasti mudah. Tapi disisi lain Diva memiliki kesedihan yang mendalam karena beban hidup yang dirinya alami. Kesedihan dalam psikologi dapat berhubungan dengan kehilangan sesuatu yang penting atau bernilai. Berikut ini kutipannya,
“Di kamarnya, memakai kaos oblong putih dan celana pendek, Diva duduk menghadap jendela. Taka da lagi yang dapat ia lakukan selain memeluk bantal keci, dan terus menangis. Ia ingin membiarkan semuanya lepas. Kepenatan itu. Tubuhnya masih cukup peka untuk memberikan sinyal bahwa ia tidak mampu menanggung semua. Karena itulah ia menangis.
Bagaimanapun, kepedihan ini tetap terasa tajam. Menjadikannya terisak dan tersengal sampai lemas. Tapi ia harus membiarkan semua ini lewat…kembali bersih…tercuci.

Dalam perjalanan Diva, dirinya juga bertemu dengan sosok laki-laki yang sangat memiliki tempat istimewa dalam hatinya, yaitu Gio. Cinta mereka tumbuh hal itu berawal saat Gio berusia masih muda, cinta merupakan perasaan tertarik pada pihak lain dengan harapan sebaliknya. Cinta diikuti dengan perasaan setia dan sayang. Gairah seksual yang kuat kerap timbul dari perasaan cinta. Berikut ini, kutipannya
“Perlahan dan tenang, Gio menyentuh lembut dagunya, memisahkan kedua bibirnya, untuk kemudian menciumnya tenang. Ia bukan lagi anak lelaki gugup beberapa jam yang lalu. Seakan-akan ia telah bermetamorfosis dengan sempurna.
Tak pernah Diva membiarkan hal itu terjadi sebelumnya, tetapi mala mini ia yakin telah mengambil keputusan yang tepat, membiarkan bibir itu disana. Membiarkan dirinya bermanja dalam pengalaman yang jarang ia dapatkan. Mengetahui lagi rasa jutaan saraf kecil yang memercikkan listrik-listrik bening ketika dua bibir bertemu.”

1.     Gio

Laki-laki merupakan peranakan Indo, dirinya merupakan laki-laki yang gemar kan berpetualang khususnya wisata alam, dirinya pernah mengunjungi sungai Yuatm Watutm dan Wanghi di daerah Irian Jaya. Gio merupakan sosok yang istimewa di hati Diva, hanya dirinya yang dapat menyentuh Diva. Sosok Gio yang mesra membuat Diva terpikat padanya, Gio memilki cinta yang mendalam terhadap Diva. Terlihat pada saat berjumpa dengan Diva berikut kutipannya

“Perlahan dengan tenang, Gio menyentuh lembut dagunya, memisahkan kedua bibirnya, untuk kemudian menciumnya tenang. Ia bukan lagi anak lelaki gugup beberapa jam yang lalu. Seakan-akan ia telah bermetaformosis dengan sempurna.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar