Apresiasi karya sastra sebagai kegiatan membaca. Membaca dapat dibedakan
dalam berbagai ragam sesuai dengan, tujuan, proses kegiatan, objek bacaan, dan
media yang digunakan. Rumusan yang di maksud adalah sebagai berikut, membaca
adalah mereaksi, membaca adalah proses, membaca adalah pemecahan kode dan
penerimaan pesan. Tanpa disertai rumusan pengertian serta latar tujuannya,
diatas telah sering disebutkan adanya beberagam membaca yang meliputi, membaca
dalam hati, membaca cepat, membaca teknik. Dapat disimulkan bahwa membaca akan
meliputi beberapa tahapan, yakni tahap pemahaman media bentuk tulisan, tahap
pemahaman media kebahasaan, tahap pemahaman aspek leksis-semantis, tahap
penarikkan kesimpulan. Penilitian pembacaan teks sastra secara lisan membaca
teknik dan membaca estetik sebagai bentuk kegiatan dengan kegiatan menikmati
karya sastra.
Pengertian dalam bekal awal dalam
apresiasi sastra. Apresiasi berasal dari bahasa Latin preciato yang berarti
“mengindahkan” atau “menghargai”. Apresiasi melibatkan tiga unsure yakni, aspek
kognitif, aspek emotif, dan aspek evaluatif. Kegiatan langsung dan kegiatan tak
langsung dan menghargai apresiasi sastra. Apresiasi sastra secara langsung
adalah kegiatan membaca atau menikmati cipta sastra berupa teks maupun performansi
secara langsung. Kegiatan apresiasi sastra secara tidak langsung itu pada
gilirannya akan ikut berperan dalam mengembangkan kemampuan apresiasi sastra
jika bahan bacaan tentang sastra yang ditelaahnya itu memiliki relevansi dengan
kegiatan apresiasi sastra. Bekal awal apresiasi sastra. Bahwa pada saat membaca
suatu karya sastra, dalam kegiatan tersebut ia selalu berusaha menciptakan
sikap serius, tetapi dengan suasana batin riang.
Pendekatan dalam apresiasi sastra.
Pendekatan sebagai suatu prinsip dasar atau landasan yang digunakan oleh
seseorang sewaktu mengapresiasi karya sastra dapat bermacam-macam. Pendekatan
parafrastis dalam mengapresiasi karya sastra, pendekatan ini biasa dilakukan
pada saat mengapresiasi puisi dan tidak digunakan dalam apresiasi prosa fiksi.
Pendekatan emotif dalam mengapresiasi sastra, suatu pendekatan yang berusaha
menemukan unsure-unsur yang mengacu emosi atau perasaan pembaca. Pendekatan
analitis dalam mengapresiasi sastra, suatu pendekatan yang berusaha memahami
gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajinasikan ide-idenya,
sikap pengarang dalam menampilkan gagsannya, elemen intrinsic dan mekanisme
hubungan dari setiap elemen interinsik itu sehingga mampu membangun adanya
keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun
totalitas maknannya. Pendekatan historis adalah suatu pendekatan yang
menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang , latar belakang peristiwa
kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya cipta sastra yang
dibaca. Pendekatan sosiopsikologis, memahami latar belakan kehidupan
sosial-budaya, maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap
lingkungan kehidupannya. Pendekatan didaktis, berusaha menemukan dan memahami
gagasan, tanggapan evaluative maupun sikap pengarang terhadap kehidupan.
Tinjauan pendekatan dan teori serta
manfaat dalam mengapresiasi sastra. Kompleksitas unsure itu sedikitnya meliputi
unsur , kebahasaan, struktur wacana, signifikan sastra, keindahan,
sosial-budaya, nilai, latar kesejarahannya. Aliran fenomenologi, misalnya
merupakan aliran yang lebih perhatian pada aspek makna dan nilai yang
terkandung dalam teks sastra. Manfaat mengapresiasi sastra ada dua, manfaat
secara umum dan manfaat membaca sastra secara khusus. Manfaat secara umum
disini, sebenarnya yang dimaksud adalah menfaat membaca sastra yang di peroleh
oleh pembaca yang pada umumnya lewat generalisai. Manfaat membaca sastra secara
khusus, memberikan informasi yang berhubungan dengan pemerolehan nilai-nilai
kehidupan,memperkaya pandangan atau wawasan, memahami nilai-nilai budaya dari
setiap zaman, mengembangkan sikap kritis pembaca dalam mengamati perkembangan
zamannya.
Pemahaman unsur-unsur dalam prosa
fiksi. Kisahan atau cerita yang di emban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan
pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari
hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Setting adalah
latar peristiwa dalam karya fiksi. Setting selalu memiliki hubungan dengan
penokohan, perwatakan, suasana cerita atau atmosfer, alur atau plot maupun
dalam rangka mewujudkan tema suatu cerita. Setting juga masih memerlukan adanya
penafsiran karena sering kali pengarang tidak mengungkapkannya secara jelas.
Unsur gaya dalam karya fiksi tidak lepas dari, masalah media yang berupa kata
dan kalimat, kandungan makna dan nuansa maupun keindahannya, seluk-beluk
pengarang. Penokohan dan perwatakan dalam prosa fiksi, pemahaman plot dalam
prosa fiksi, titik pandang : menampilkan para pelaku dalam cerita yang di
paparkannya, tema dalam prosa fiksi.
Mimemis dan diegesis, mimemis adalah penciptaan yang semata-mata
bertumpu pada realitas yang ada atau mewujud diluar diri pengarang, diegesis
adalah penciptaan yang semata-mata bertumpu pada kesadaran batin personal
pengaranganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar