Jumat, 02 September 2016

Hakikat Apresiasi Sastra



Apresiasi karya sastra sebagai kegiatan membaca. Membaca dapat dibedakan dalam berbagai ragam sesuai dengan, tujuan, proses kegiatan, objek bacaan, dan media yang digunakan. Rumusan yang di maksud adalah sebagai berikut, membaca adalah mereaksi, membaca adalah proses, membaca adalah pemecahan kode dan penerimaan pesan. Tanpa disertai rumusan pengertian serta latar tujuannya, diatas telah sering disebutkan adanya beberagam membaca yang meliputi, membaca dalam hati, membaca cepat, membaca teknik. Dapat disimulkan bahwa membaca akan meliputi beberapa tahapan, yakni tahap pemahaman media bentuk tulisan, tahap pemahaman media kebahasaan, tahap pemahaman aspek leksis-semantis, tahap penarikkan kesimpulan. Penilitian pembacaan teks sastra secara lisan membaca teknik dan membaca estetik sebagai bentuk kegiatan dengan kegiatan menikmati karya sastra.
            Pengertian dalam bekal awal dalam apresiasi sastra. Apresiasi berasal dari bahasa Latin preciato yang berarti “mengindahkan” atau “menghargai”. Apresiasi melibatkan tiga unsure yakni, aspek kognitif, aspek emotif, dan aspek evaluatif. Kegiatan langsung dan kegiatan tak langsung dan menghargai apresiasi sastra. Apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan membaca atau menikmati cipta sastra berupa teks maupun performansi secara langsung. Kegiatan apresiasi sastra secara tidak langsung itu pada gilirannya akan ikut berperan dalam mengembangkan kemampuan apresiasi sastra jika bahan bacaan tentang sastra yang ditelaahnya itu memiliki relevansi dengan kegiatan apresiasi sastra. Bekal awal apresiasi sastra. Bahwa pada saat membaca suatu karya sastra, dalam kegiatan tersebut ia selalu berusaha menciptakan sikap serius, tetapi dengan suasana batin riang.
            Pendekatan dalam apresiasi sastra. Pendekatan sebagai suatu prinsip dasar atau landasan yang digunakan oleh seseorang sewaktu mengapresiasi karya sastra dapat bermacam-macam. Pendekatan parafrastis dalam mengapresiasi karya sastra, pendekatan ini biasa dilakukan pada saat mengapresiasi puisi dan tidak digunakan dalam apresiasi prosa fiksi. Pendekatan emotif dalam mengapresiasi sastra, suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsure-unsur yang mengacu emosi atau perasaan pembaca. Pendekatan analitis dalam mengapresiasi sastra, suatu pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajinasikan ide-idenya, sikap pengarang dalam menampilkan gagsannya, elemen intrinsic dan mekanisme hubungan dari setiap elemen interinsik itu sehingga mampu membangun adanya keselarasan dan kesatuan dalam rangka membangun totalitas bentuk maupun totalitas maknannya. Pendekatan historis adalah suatu pendekatan yang menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang , latar belakang peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi masa-masa terwujudnya cipta sastra yang dibaca. Pendekatan sosiopsikologis, memahami latar belakan kehidupan sosial-budaya, maupun tanggapan kejiwaan atau sikap pengarang terhadap lingkungan kehidupannya. Pendekatan didaktis, berusaha menemukan dan memahami gagasan, tanggapan evaluative maupun sikap pengarang terhadap kehidupan.
            Tinjauan pendekatan dan teori serta manfaat dalam mengapresiasi sastra. Kompleksitas unsure itu sedikitnya meliputi unsur , kebahasaan, struktur wacana, signifikan sastra, keindahan, sosial-budaya, nilai, latar kesejarahannya. Aliran fenomenologi, misalnya merupakan aliran yang lebih perhatian pada aspek makna dan nilai yang terkandung dalam teks sastra. Manfaat mengapresiasi sastra ada dua, manfaat secara umum dan manfaat membaca sastra secara khusus. Manfaat secara umum disini, sebenarnya yang dimaksud adalah menfaat membaca sastra yang di peroleh oleh pembaca yang pada umumnya lewat generalisai. Manfaat membaca sastra secara khusus, memberikan informasi yang berhubungan dengan pemerolehan nilai-nilai kehidupan,memperkaya pandangan atau wawasan, memahami nilai-nilai budaya dari setiap zaman, mengembangkan sikap kritis pembaca dalam mengamati perkembangan zamannya.
            Pemahaman unsur-unsur dalam prosa fiksi. Kisahan atau cerita yang di emban oleh pelaku-pelaku tertentu dengan pemeranan, latar serta tahapan dan rangkaian cerita tertentu yang bertolak dari hasil imajinasi pengarangnya sehingga menjalin suatu cerita. Setting adalah latar peristiwa dalam karya fiksi. Setting selalu memiliki hubungan dengan penokohan, perwatakan, suasana cerita atau atmosfer, alur atau plot maupun dalam rangka mewujudkan tema suatu cerita. Setting juga masih memerlukan adanya penafsiran karena sering kali pengarang tidak mengungkapkannya secara jelas. Unsur gaya dalam karya fiksi tidak lepas dari, masalah media yang berupa kata dan kalimat, kandungan makna dan nuansa maupun keindahannya, seluk-beluk pengarang. Penokohan dan perwatakan dalam prosa fiksi, pemahaman plot dalam prosa fiksi, titik pandang : menampilkan para pelaku dalam cerita yang di paparkannya, tema dalam prosa fiksi.
            Mimemis dan diegesis,  mimemis adalah penciptaan yang semata-mata bertumpu pada realitas yang ada atau mewujud diluar diri pengarang, diegesis adalah penciptaan yang semata-mata bertumpu pada kesadaran batin personal pengaranganya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar